alt/text gambar

Wednesday, 30 October 2013

Mengenal Reggae

Di Indonesia, Reggae hampir selalu diidentikkan dengan Rasta. Padahal, Reggae dan Rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda,. Reggae jelas kita kenal sebagai nama genre musik, sedangkan Rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,
di balik ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa Reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi Rasta itu sendiri. ”Di sini, penggemar musik reggae, atau sering di identikkan salah kaprah disebut rastafarian, dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,
“ Padahal, filosofi Rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut Rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok "

tidak semua penggemar Reggae adalah penganut Rasta, dan begitu juga sebaliknya, tidak semua penganut Rasta harus menyenangi lagu Reggae, Reggae diidentikkan dengan Rasta karena Bob Marley pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah seorang penganut Rasta.

salah satu bukti bahwa Komunitas Reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran Rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu. Padahal mereka adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,”

Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut Rasta. Tony q mencoba memahami ajaran Rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai.

Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi Rastafari, biasanya para penggemar dan pelaku Reggae di Indonesia berkemungkinan besar mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. seperti, dimulai dari menyenangi musik Reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

juga saya akui musik Reggae semakin menguatkan kebencian terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang,


"Reggae tidak akan pernah salah kalau saja Reggaeman sejati yang memahaminya"


#backsound @10 Ft Ganja Plant - Your voice :D

The Paps


Tidak banyak Band di Indonesia yang memainkan jamaican sound. Namun, berbekal semangat kebebasan sekumpulan anak muda asal Bandung mendirikan The Paps, sebuah grup musik beraliran jamaican sound.
Adalah Daniel (gitar/-sampler), Sagit (gitar), Ganjar (drum) dan Dave (vokal) yang merupakan teman nongkrong dan sama-sama menyukai musik reggae.
Pemilihan musik reggae oleh band ini tidak sembarangan. “Reggae adalah puncak dari segala musik,” tutur Daniel ketika berbincang dengan detikbandung, beberapa waktu lalu.
Namun bagi band yang berdiri sejak 2003 lalu ini, reggae adalah irama musik kebebasan. “Kita suka kebebasan dan reggae musiknya bebas,” tutur Sagit.
Pemilihan nama band sendiri bisa dibilang cukup sederhana. “Kenapa The Paps? ya karena kata itu keren dan catchy. Selain itu, kita kan laki-laki semua jadi bakal jadi papa-papa. Jadilah The Paps,” tukasnya.
Di awal-awal perjalanannya, The Paps masih mengcover lagu-lagu Bob Marley. “Waktu dulu belum pure lagu sendiri. Masih bawain lagu orang. Biasanya lagunya Bob Marley,” ujar Daniel.
Perjalanan The Paps terus berkembang hingga tahun 2005 terpilih menjadi salah satu pengisi album kompilasi bersama band-band indie Bandung lainnya.
“Waktu 2005 ada kompilasi Indonesian Reggae Revolution 1 dan kita masukin single ‘Hang Loose Baby’,” ujar Dave.
Mulai 2007, band yang sempat mengeluarkan single ‘Life is a Big Joke’ ini akhirnya murni membawakan lagu mereka sendiri.
“Tahun 2007 kita mengeluarkan album perdana bertitel ‘Hang Loose Baby’. Diangkat dari single kita dulu. Isinya banyak bercertia mengenai hubungan masnusia dan manusia,” tutur Sagit.
Dari sana, tanggapan publik kepada The Paps semakin bagus. Alhasil tawaran manggung pun semakin membanjir.
“Kita sampai bisa main keluar acara komunitas seperti Agustusan hingga kawinan. Juga tampil bersama band reggae yang lebih dulu ada seperti sub kultur dan rasmadya,” papar Dave.
Band yang banyak terinspirasi oleh grup black music dan jamaican eclectic sound seperti Lord Tanamo (Jamaica), Panda Bear (Brooklyn), Angkatan Udara dan Los Jakartos ini mengaku berharap bisa tampil di hadapan publik internasional.
“Kita ingin bisa tampil di Eropa, utamanya di Belanda,” tutur Dave yang diamini personel lainnya.

Thursday, 17 October 2013

Kasus Suap MK : Ratu Atut Chosiyah

Mendengar nama Ratu Atut di televisi,seorang anak Sekolah Dasar bertanya,”Apakah Ratu Atut memimpin Kesultanan Banten…?” ; Cukup geli juga mendengar pertanyaan anak SD tersebut,mungkin saja dirinya sedang belajar sejarah Indonesia yang memang di era penjajahan dulu beberapa wilayah Indonesia dipimpin oleh raja atau ratu yang memimpin kerajaan/kesultanan. Dengan nama “Ratu” didepan namanya,seorang Atut yang memimpin propinsi Banten memang benar seperti ratu pada umumnya pada era penjajahan dahulu.
Bayangkan saja,dengan kekayaan yang dimiliki secara pribadi dan keluarga berikut saudara-2nya yang spektakuler di Banten berupa aset-aset properti yang tercecer sedemikian rupa,kemudian juga aset-aset properti mahal yang terlihat dimiliki di Bandung,Jakarta dan mungkin juga di luar negeri ; Bukan sekedar aset properti saja,tetapi jabatan-2 yang melekat di sanak famili Ratu Atut di berbagai daerah Kabupaten/Kotamadya di Propinsi Banten,baik di legislatif maupun di eksekutif,dari yang muda belia sampai yang tua dan sakit-sakitan ; Layaklah Ratu Atut disebut “ratu” di Kerajaan Banten,eh…salah Propinsi Banten.
Nama Ratu Atut baru menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia,bukan karena keelokan wajahnya bak “Ratu se Jagad” yang kalau diperlombakan pasti didemo oleh FPI ; Tetapi nama Ratu Atut melejit karena diduga terlibat kasus-kasus kejahatan suap ke Ketua MK yang melibatkan adik kandungnya dengan panggilan “Wawan” atau Tubagus Chaeri Wardana. Adik Ratu Atut ini beberapa waktu yang lalu dicokok oleh KPK untuk menjadi tersangka kasus penyuapan ke Ketua MK,Akil Mochtar ; Mungkin saja kasusnya bukan sekedar penyuapan,tetapi akan merembet ke kasus-kasus lain yang sekarang sedang ramai dibuka oleh beberapa LSM anti Korupsi yang sudah lama menyoroti kehidupan pribadi Ratu Atut dan keluarganya.
Ratu Atut juga bagai “ratu” yang memerintah sebuah kerajaan tempo dulu di Indonesia,dimana raja/ratunya hidup bergelimpang harta,tetapi rakyatnya tetap saja menjadi rakyat jelata dengan kehidupan yang miskin dan infrastruktur yang amburadul. Membaca gurita bisnis dan sepak terjang keluarga Ratu Atut di sebuah majalah online,memberikan gambaran betapa kebodohan rakyat Banten dimanfaatkan oleh keluarga ini. Rasa takut terhadap ayahanda Ratu Atut yang dikatakan sebagai seorang jawara di Banten menjadikan keluarga ini masuk ke dunia politik praktis dan menguasai sektor legislatif dan eksekutif serta menguasai kehidupan politik rakyat Banten. Padahal Allah SWT sudah “memberitahu” bahwa diriNya lebih berkuasa dari ayahanda Ratu Atut,yaitu dengan mengambil nyawa ayahanda Ratu Atut,Chasan Sochib,maka itu membuktikan bahwa sang jawara pun bisa mati,jadi apa yang perlu ditakuti oleh masyarakat Banten terhadap keluarga ini…?
Masyarakat miskin dan bodoh memang gampang sekali “ketakutan” dengan cerita-2 kesaktian seorang jawara,yang katanya dibacok atau ditembak pistol tidak bisa mati. Ilmu kanuragan atau ilmu silatnya sangat tangguh,tak ada lawan,dsb….Cara berpikir seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh keturunan Chasan Sochib untuk meraih kekuasaan politis di daerahnya. Ilmu-2 klenik dan santet menjadi kekuatan mereka untuk menakuti masyarakat yang masih bodoh dan kurang imannya. Isu santet pun juga mewarnai ketika adik Ratu Atut ditangkap KPK ; Untung saja Ketua KPK Abraham Samad berani menantang dengan menyatakan “Tidak Takut” disantet,jadi mudah-mudahan kasus korupsi yang melibatkan Ratu Atut dan keluarganya idak berhenti karena semua anggota KPK takut kena santet…!
Cerita kesaktian,magis,kekuasaan absolut memang ciri khas para raja/ratu yang memerintah kerajaan/kesultanan di bumi Nusantara ini. Akibat budaya “kebodohan” seperti itulah,maka masyarakat Indonesia masih saja percaya dengan figur-figur yang mempunyai darah keturunan orang-orang yang dianggap “sakti” dan mumpuni. Mereka masuk ke kekuasaan dengan melalui jalur partai politik di era demokrasi “liberal” ini tanpa disaring oleh parpol yang menjadi kuda tunggang mereka. Parpol juga berkepentingan untuk meraih kursi sebanyak-banyaknya melalui figur-figur orang “top” ini,tanpa membaca sejarah dan kelangsungan hidup parpol selanjutnya. Mungkin saja bagi parpol yang menjadi kuda tunggang mereka disederhanakan cara berpikirnya,yaitu bila sudah tercemar nanti dicopot alias dipecat saja….! Beres,bukan…? Tetapi effek terrhadap kerugian negara,kebodohan politik rakyat tidak lagi dipikirkan,yang terpenting meraih kekuasaan…!
Ratu Atut memang bukan “Ratu” Banten,bisa jadi akhir dari kehidupan politiknya berakhir di balik jeruji dengan kasus-2 korupsi yang menantinya,persis sama dengan pendahulunya yaitu Mantan Gubernur Banten Djoko Munandar yang digantikannya karena terkena kasus korupsi. Tetapi itu mungkin juga mimpinya para aktivis LSM anti Korupsi,sebab siapa tahu Ratu Atut memang “ratu” Banten,sebab dengan begitu banyak kolega,saudara dan para pejabat tinggi negeri ini yang sudah “mencicipi” manisnya “setoran”,sang “ratu” benar-benar dapat lolos dari kasus korupsi…? Sekali lagi,harus diingat bahwa kekuasaan Ratu Atut Chosiyah memang luar biasa…..!
Kekuasaan inilah yang menjadi pintu gerbang para pejabat atau penyelenggara negara korup untuk meraih kekayaan tanpa peduli terhadap rakyat dan bangsa serta negara Indonesia. Kekuasaan tidak lagi dipakai untuk mensejahterakan rakyat dan masyarakat Indonesia,tetapi dipakai untuk kepentingan pribadi dan golongan/kelompoknya sendiri. Pribadi yang demikian bukan saja menghinggapi para penyelenggara negara,tetapi di sektor swasta tidak sedikit seorang pemimpin perusahaan melakukan hal yang sama dengan para pejabat korup dan haus kekuasaan tersebut. Sikap totaliter dan diktator serta berlaku sewenang-wenang sedang menjadi penyakit kepemimpinan di Indonesia. Tak cuman Ratu Atut,tetapi hampir semua pemimpin bangsa ini,baik di sektor pemerintahan maupun swasta perlu belajar apa itu “Kepemimpinan” ….!
Kekuasaan bukan kepemimpinan,untuk meraih kepemimpinan tidak diperlukan kekuasaan,sebab kekuasaan justru akan menghancurkan nilai kepemimpinan,yaitu kejujuran dan belas kasih

Kasus MK, Atut siap ikuti proses hukum

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah siap ikuti proses hukum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus dugaan suap penanganan perkara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Lebak, Banten, di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Yang jelas kita kooperatif dengan proses hukum," ujar Juru Bicara (Jubir) Keluarga Ratu Atut, Fitron Nur Ikhsan, di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/10/2013).

Akan tetapi, kata dia, pihak keluarga yakin bahwa Atut tak terlibat dalam kasus yang juga melibatkan mantan Ketua MK Akil Mochtar tersebut. "Kita sendiri yakin tak terlibat persolan itu, kita tunggu saja KPK, kalau diproses hukum, ya kita ikuti," katanya.

Seperti diketahui, pada Jumat 11 Oktober 2013 yang lalu, Ratu Atut Chosiyah diperiksa KPK sekira delapan jam. Saat itu, Atut diperiksa sebagai saksi guna melengkapi berkas tersangka Susi Tur Handayani.

Sebelumnya juga, KPK melalui pihak Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM), sudah mencegah Atut bepergian ke luar negeri selama enam bulan ke depan. Selain Susi Tur Handayani, KPK sudah menetapkan Akil Mochtar dan Tubagus Chaeri Wardana yang merupakan adik Ratu Atut dalam perkara dugaan suap senilai Rp3 miliar ini.

Wednesday, 16 October 2013

Ras Muhamad Talks About Reggae


Monday, 7 October 2013

Buku NEGERI PELANGI - Ras Muhamad

“Sepanjang pengamatan saya, ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia seorang penyanyi menulis bukunya sendiri, dan diluncurkan dalam konferensi pers di depan komunitasnya,” ― Bens Leo.
 
Catatan Perjalanan Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia
 

Setelah merilis beberapa album, penyanyi yang sekaligus icon reggae Ras Muhamad kini meluncurkan sebuah buku yang berjudul ‘Negeri Pelangi’. Buku ini merupakan catatan Duta Reggae IndonesiaRas Muhamadke Ethiopia, negera yang terletak di belahan benua Afrika yang merupakan cikal bakal lahirnya musik reggae.
Di mata orang kebanyakan atau bahkan oleh komunitas reggae di Indonesia sendiri menganggap bahwa reggae hanya sebatas musik pantai dengan panorama pohon kelapa dan musik yang tak terlalu memikirkan masa depan. Begitu pula anggapan yang melekat kepada penggemar musik bergenre reggae yang acap kali dikonotasikan dengan narkoba dan huru-hara. Padahal jika dicerna isi/lirik lagu yang dibawakan oleh para pendahalu musisi reggae, pergerakan reggae ini sarat bercerita tentang kebangsaan, nasionalisme, keberagaman, pluralisme, dan toleransi.
Melalui karya perdananya dalam bentuk tulisan ―Negeri Pelangi―, Ras Muhamad menjelaskan dan meluruskan anggapan-anggapan tersebut secara detail. Buku yang terilhami dari sebuah perjalanannya ke negera yang memiliki ibu kota Addis Ababa ini juga mengupas benang merah ikatan filosofis dan hubungan sejarah antara Etiopia di Afrika dengan Jamaika di Karibia. Begitu juga dengan semangat Asia-Afrika yang merupakan napas Dasa Sila Bandung yang digagas oleh Bung Karno.
Lebih lanjut, buku ‘Negeri Pelangi’ ini mengkaji lebih dalam sosok-sosok penting seperti Bob Marley, Marcus Garvey, Kaisar Haile Selassie dan Pergerakan Rastafari, negara Jamaika, sejarah, reggae dan banyak lagi kandungan penting yang harus diketahui oleh para pecinta reggae, seperti kandungan yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Bob Marley.
Bisa dikatakan buku ini adalah sebuah dokumentasi “perjalanan spiritual” Ras Muhamad sebagai Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia. Sebuah negara di belahan benua Afrika yang tidak banyak orang mengenalnya secara luas. Bahkan masih melekat dalam benak kita, bila mendengar Etiopia maka yang terbayang adalah kesedihan, kelaparan, kebodohan, penyakit, dan kemiskinan. Persepsi tersebut masih hidup hingga sekarang karena pada masa ‘Perang Dingin’ lalu dan Ethiopia ketika itu dikuasai rezim komunis memang mengalami hal negatif seperti itu. Tapi kini setelah pemerintahan demokratis berkuasa, negeri ini mengalami kemajuan yang luar biasa berkat sikap ‘visoner’ yang dimiliki almarhum Perdana Menteri Meles Zenawi yang berkuasa sejak tahun 1994 hingga wafatnya tanggal 21 Agustus 2012.
 
13619900211523508921 
Buku setebal 204 halaman ini disertai dengan foto-foto dokumentasi selama perjalanan Ras Muhamad menyusuri tempat-tempat bersejarah serta momen-momen penting selama di Ethiopia. Kemasan menarik lainnya adalah CD lagu-lagu pilihan terbaik pergerakan Rastafari oleh Asia-Afrika soundsystem yang selaras dengan tema buku ini. Tentunya, terdapat pula single terbaru bertajuk “Negeri Pelangi” berkolaborasi dengan musisi reggae legendaris Indonesia, Toni Q.
1362015606165767219 
Ras Muhammad secara resmi meluncurkan buku ‘Negeri Pelangi’ pada 17 Februari 2013 di Jakarta dihadiri oleh berbagai tamu undangan, pengamat musik, penerbit, para musisi reggae yang sekaligus mendukung acara launching party, awak media, dan para fans –pecinta reggae.
13619870361876812396

Kisah Klasik Tentang Keberadaan Musik Reggae



Reggae? Pernah gak sih kalian mempertanyakan apa sih sebenarnya arti dari kata “reggae” itu sendiri. Begini guys, menurut buku yang gak sengaja gw baca, bahwa reggae itu berasal dari kata “ragged”, kata tersebut mempunyai arti dari suatu gerakan yang menghentakkan badan layaknya penggemar reggae sedang menikmati alunan musik tersebut. Tahun 1968 Musik Reggae ini terlahir, setelah surutnya penikmat musik Ska, RockSteady, dan DUB disaat penduduk Jamaika mengalami tekanan social ekonomi.


Music Reggae mempunyai tempo yang lebih lambat dibandingkan dengan musik Ska dan RockSteady, dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol, memberikan nuansa irama music reggae ini, terdengar mengasikkan. Iramanya yang dinamis membuat pendengarnya bergoyang santai, sehingga mereka ikut menghayati ditiap lirik-liriknya. Kehadiran musik reggae ini, sebagai bentuk penyampaian pesan yang dituangkan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan social politik humanistik maupun universal. Jadi dapat dikatakan bahwa musik Reggae juga merupakan sebuah musik bagi para pemberontak.
Perkembangan musik yang satu ini memang sangat pesat. Musik Reggae pun akhirnya mengalami perkembangan menjadi Roots Reggae dan Dancehall Reggae yang terjadi pada akhir tahun 1970. Nama Roots Reggae sendiri diberikan oleh para Rastafarian, yang berarti sebuah musik spiritual yang diperuntukan bagi “Jah” yang berarti tuhan bagi para Rastafarian.
Para pecinta reggae identik dengan atribut yang mewakili style kaum Rastafarian diantaranya, rambut gimbal, bendera dengan kombinasi warna merah, kuning, dan hijau. Ada kebanyakan orang yang merasa kurang nyaman melihat kaum yang berambut gimbal dengan segala atribut yang mempunyai kombinasi warna merah, kuning, dan hijau, namun hal itu merupakan ungkapan bahwa mereka menggemari aliran music reggae.
Dilihat dari karateristiknya, pernah ada gak di benak kalian muncul sebuah pertanyaan, kenapa reggae identik dengan warna merah-kuning-hijau???  Ketiga warna yang identik itu adalah warna merah, kuning/emas, dan hijau, yang melambangkan warna bendera dari Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan kesetiaan kaumnya terhadap negaranya sendiri atau sebagai ungkapan rasa nasionalisme tinggi terhadap negaranya. Warna  Merah melambangkan darah para martir, kuning/emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang ditawarkan Afrika, sementara hijau melambangkan tetumbuhan Afrika . Menurut sejumlah pakar Ethiopia menyatakan, warna merah, kuning/emas, dan hijau dilambangkan sebagai sabuk Perawan Maria, yaitu pelangi. Sedangkan dari 7 unsur warna pelangi, diantaranya terdapat tiga warna yang sangat identik dengan kaum rastafari.
Sebagian orang mempunyai pandangan negative tentang kebiasaan para penikmat reggae. Oleh karena itu, aliran reggae ini, pernah menjadi buah bibir sebagian kecil masyarakat di dunia, mereka menganggap music ini sangat berbahaya bila ditinjau dari segi lirik lagu mapun lifestyle yang melekat pada penggemarnya. Penggunaan cannabis alias ganja oleh para musisi Reggae banyak diikuti oleh para pendengar dari musik ini, karena efek yang ditimbulkan oleh ganja memang sangat cocok dengan irama musik Reggae. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja merupakan salah satu ritual yang wajib dilakukan oleh para Rastafarian.
Namun bagi sebagian besar orang, reggae yang seutuhnya dapat memberikan pengaruh yang positif. Selain lirik lagu reggae berisi pesan perdamaian, juga memberikan dorongan untuk membuat hidup lebih baik. “Your life is worth much more than gold” itulah potongan lirik dari lagu Jammin’ yang mengartikan bahwa hidup kamu lebih bersinar dan mahal daripada emas. Lirik itulah yang selalu membangkitkan semangat untuk orang-orang yang tertindas. Pesan yang selalu Bob marley nyanyikan dalam Redemption Song dan yang selalu membekas dihati para penggemar Bob Marley adalah “Emancipate Your Selves From Mental Slavery” (emansipasikan dirimu dari mental budak).
Awal mula dari semua ini berasal dari sang legendaris Bob Marley yang terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945, di sebuah desa di Saint Anna, Jamaica, Bob Marley merupakan Sang legenda Reggae yang tidak akan ada habisnya dibicarakan. Ia merupakan salah satu musisi yang sangat mendunia. Selain berprofesi sebagai penyanyi, Bob Marley juga sangat piawai dalam memainkan gitar dan menjadi seorang penulis lagu yang handal.
Pada tahun 1963 Bob Marley bersama Bunny Livingston, Peter McIntosh, Junior Braithwaite, Beverly Kelso dan Cherry Smith membuat sebuah band yang bernama The Teenagers. Nama The Teenagers sendiri tidak bertahan lama dan kemudian berubah menjadi The Wailing Rudeboys yang kemudian disempurnakan menjadi The Wailers. Perjalanan Marley sendiri dilaluinya layaknya musisi, hingga kesuksesannya menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi penggemarnya.
Namun Marley tidak lama merasakan kejayaannya tersebut. Pada bulan Juli 1977 Marley divonis menderita penyakit kanker, dan penyakit tersebut pun mulai menjalar ke beberapa bagian vital tubuhnya seperti otak dan hati yang membuatnya harus banyak beristirahat. Pada tanggal 11 Mei 1981 sang legenda Reggae ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan tiga belas anak. Walaupun telah meninggal, nama Bob Marley seakan tidak pernah lenyap dari dunia musik, khususnya musik Reggae. Bahkan musik Reggae pun semakin diterima dunia. Mungkin ini lah salah satu cara yang harus dilakukan oleh sang dewa Reggae untuk tetap menghidupkan musik Reggae.

Music Reggae bukanlah music yang dimainkan oleh orang-orang yang memakai ganja, tetapi music reggae adalah music tentang jiwa pemberontak yang menginginkan kebebasan, bukanlah kebebasan tanpa batas maupun penindasan.

NB : “Martir” artinya, Seseorang yang harus mampu menjaga jarak dengan zaman. Ikut arus tapi tidak terbawa arus. Cerdas dan tangguh dalam menyikapi masalah dan mampu mempertanggungjawabkan prinsip hidup Katolik dalam masyarakat.
DMCA.com