alt/text gambar
Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Friday, 6 November 2015

Pemerintah Luncurkan Tol Laut di Pelabuhan Tanjung Priok




Menteri Perhubungan Ignasius Jonan bersama dengan Menteri Perdagangan Thomas Lembong meresmikan peluncuran Tol Laut di Terminal Penumpang, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Tol laut merupakan program nasional Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) yang ditatarbelakangi karena adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara wilayah barat dan timur. Konsep tol laut adalah menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia dengan kapal.

Pertumbuhan ekonomi yang terpusat di Pulau Jawa mengakibatkan transportasi laut di Indonesia tidak efisien dan mahal karena tidak adanya muatan balik dari wilayah-wilayah yang pertumbuhan ekonominya rendah, khususnya di Kawasan Timur Indonesia.

"Program tol laut itu tidak hanya pelabuhan, tapi yang lebih penting program angkutan melalui jalur laut, kita selama ini bahwa indikator ekonomi sering disebutkan nasional, padahal disparitas antar daerah besar," kata Jonan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/11/2015).

Ditambahkan Jonan, pada prinsipnya tot laut merupakan penyelenggaraan angkutan laut secara tetap dan teratur yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan hub disertai feeder dan Sumatera hingga ke Papua dengan menggunakan kapal-kapal berukuran besar sehingga diperoleh manfaat ekonomisnya.

Diharapkan dengan adanya program pelayaran kapal yang terjadwal ini dapat menurunkan disparitas harga untuk wilayah Indonesia Timur dengan wilayah produksi yang sebagian besar ada di wilayah Indonesia bagian Barat.

Dalam rangka petaksanaan program tot laut ini, maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan memberikan penugasan kepada PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Persero).

Penugasan tersebut tertuang datam Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Pubtik untuk Angkutan Barang Dalam Rangka Pelaksanaan Tol Laut yang diikuti dengan terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 161 Tahun 2015 tanggal 16 Oktober 2015 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang di Laut dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 168 Tahun 2015 tentang Tanrif Angkutan Barang Dalam Negeri dan Bongkar Muat Dalam Rangka Pelaksanaan Tol Laut. ‎(Yas/Gdn
)

Thursday, 17 October 2013

Kasus Suap MK : Ratu Atut Chosiyah

Mendengar nama Ratu Atut di televisi,seorang anak Sekolah Dasar bertanya,”Apakah Ratu Atut memimpin Kesultanan Banten…?” ; Cukup geli juga mendengar pertanyaan anak SD tersebut,mungkin saja dirinya sedang belajar sejarah Indonesia yang memang di era penjajahan dulu beberapa wilayah Indonesia dipimpin oleh raja atau ratu yang memimpin kerajaan/kesultanan. Dengan nama “Ratu” didepan namanya,seorang Atut yang memimpin propinsi Banten memang benar seperti ratu pada umumnya pada era penjajahan dahulu.
Bayangkan saja,dengan kekayaan yang dimiliki secara pribadi dan keluarga berikut saudara-2nya yang spektakuler di Banten berupa aset-aset properti yang tercecer sedemikian rupa,kemudian juga aset-aset properti mahal yang terlihat dimiliki di Bandung,Jakarta dan mungkin juga di luar negeri ; Bukan sekedar aset properti saja,tetapi jabatan-2 yang melekat di sanak famili Ratu Atut di berbagai daerah Kabupaten/Kotamadya di Propinsi Banten,baik di legislatif maupun di eksekutif,dari yang muda belia sampai yang tua dan sakit-sakitan ; Layaklah Ratu Atut disebut “ratu” di Kerajaan Banten,eh…salah Propinsi Banten.
Nama Ratu Atut baru menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia,bukan karena keelokan wajahnya bak “Ratu se Jagad” yang kalau diperlombakan pasti didemo oleh FPI ; Tetapi nama Ratu Atut melejit karena diduga terlibat kasus-kasus kejahatan suap ke Ketua MK yang melibatkan adik kandungnya dengan panggilan “Wawan” atau Tubagus Chaeri Wardana. Adik Ratu Atut ini beberapa waktu yang lalu dicokok oleh KPK untuk menjadi tersangka kasus penyuapan ke Ketua MK,Akil Mochtar ; Mungkin saja kasusnya bukan sekedar penyuapan,tetapi akan merembet ke kasus-kasus lain yang sekarang sedang ramai dibuka oleh beberapa LSM anti Korupsi yang sudah lama menyoroti kehidupan pribadi Ratu Atut dan keluarganya.
Ratu Atut juga bagai “ratu” yang memerintah sebuah kerajaan tempo dulu di Indonesia,dimana raja/ratunya hidup bergelimpang harta,tetapi rakyatnya tetap saja menjadi rakyat jelata dengan kehidupan yang miskin dan infrastruktur yang amburadul. Membaca gurita bisnis dan sepak terjang keluarga Ratu Atut di sebuah majalah online,memberikan gambaran betapa kebodohan rakyat Banten dimanfaatkan oleh keluarga ini. Rasa takut terhadap ayahanda Ratu Atut yang dikatakan sebagai seorang jawara di Banten menjadikan keluarga ini masuk ke dunia politik praktis dan menguasai sektor legislatif dan eksekutif serta menguasai kehidupan politik rakyat Banten. Padahal Allah SWT sudah “memberitahu” bahwa diriNya lebih berkuasa dari ayahanda Ratu Atut,yaitu dengan mengambil nyawa ayahanda Ratu Atut,Chasan Sochib,maka itu membuktikan bahwa sang jawara pun bisa mati,jadi apa yang perlu ditakuti oleh masyarakat Banten terhadap keluarga ini…?
Masyarakat miskin dan bodoh memang gampang sekali “ketakutan” dengan cerita-2 kesaktian seorang jawara,yang katanya dibacok atau ditembak pistol tidak bisa mati. Ilmu kanuragan atau ilmu silatnya sangat tangguh,tak ada lawan,dsb….Cara berpikir seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh keturunan Chasan Sochib untuk meraih kekuasaan politis di daerahnya. Ilmu-2 klenik dan santet menjadi kekuatan mereka untuk menakuti masyarakat yang masih bodoh dan kurang imannya. Isu santet pun juga mewarnai ketika adik Ratu Atut ditangkap KPK ; Untung saja Ketua KPK Abraham Samad berani menantang dengan menyatakan “Tidak Takut” disantet,jadi mudah-mudahan kasus korupsi yang melibatkan Ratu Atut dan keluarganya idak berhenti karena semua anggota KPK takut kena santet…!
Cerita kesaktian,magis,kekuasaan absolut memang ciri khas para raja/ratu yang memerintah kerajaan/kesultanan di bumi Nusantara ini. Akibat budaya “kebodohan” seperti itulah,maka masyarakat Indonesia masih saja percaya dengan figur-figur yang mempunyai darah keturunan orang-orang yang dianggap “sakti” dan mumpuni. Mereka masuk ke kekuasaan dengan melalui jalur partai politik di era demokrasi “liberal” ini tanpa disaring oleh parpol yang menjadi kuda tunggang mereka. Parpol juga berkepentingan untuk meraih kursi sebanyak-banyaknya melalui figur-figur orang “top” ini,tanpa membaca sejarah dan kelangsungan hidup parpol selanjutnya. Mungkin saja bagi parpol yang menjadi kuda tunggang mereka disederhanakan cara berpikirnya,yaitu bila sudah tercemar nanti dicopot alias dipecat saja….! Beres,bukan…? Tetapi effek terrhadap kerugian negara,kebodohan politik rakyat tidak lagi dipikirkan,yang terpenting meraih kekuasaan…!
Ratu Atut memang bukan “Ratu” Banten,bisa jadi akhir dari kehidupan politiknya berakhir di balik jeruji dengan kasus-2 korupsi yang menantinya,persis sama dengan pendahulunya yaitu Mantan Gubernur Banten Djoko Munandar yang digantikannya karena terkena kasus korupsi. Tetapi itu mungkin juga mimpinya para aktivis LSM anti Korupsi,sebab siapa tahu Ratu Atut memang “ratu” Banten,sebab dengan begitu banyak kolega,saudara dan para pejabat tinggi negeri ini yang sudah “mencicipi” manisnya “setoran”,sang “ratu” benar-benar dapat lolos dari kasus korupsi…? Sekali lagi,harus diingat bahwa kekuasaan Ratu Atut Chosiyah memang luar biasa…..!
Kekuasaan inilah yang menjadi pintu gerbang para pejabat atau penyelenggara negara korup untuk meraih kekayaan tanpa peduli terhadap rakyat dan bangsa serta negara Indonesia. Kekuasaan tidak lagi dipakai untuk mensejahterakan rakyat dan masyarakat Indonesia,tetapi dipakai untuk kepentingan pribadi dan golongan/kelompoknya sendiri. Pribadi yang demikian bukan saja menghinggapi para penyelenggara negara,tetapi di sektor swasta tidak sedikit seorang pemimpin perusahaan melakukan hal yang sama dengan para pejabat korup dan haus kekuasaan tersebut. Sikap totaliter dan diktator serta berlaku sewenang-wenang sedang menjadi penyakit kepemimpinan di Indonesia. Tak cuman Ratu Atut,tetapi hampir semua pemimpin bangsa ini,baik di sektor pemerintahan maupun swasta perlu belajar apa itu “Kepemimpinan” ….!
Kekuasaan bukan kepemimpinan,untuk meraih kepemimpinan tidak diperlukan kekuasaan,sebab kekuasaan justru akan menghancurkan nilai kepemimpinan,yaitu kejujuran dan belas kasih

Kasus MK, Atut siap ikuti proses hukum

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah siap ikuti proses hukum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus dugaan suap penanganan perkara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Lebak, Banten, di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Yang jelas kita kooperatif dengan proses hukum," ujar Juru Bicara (Jubir) Keluarga Ratu Atut, Fitron Nur Ikhsan, di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/10/2013).

Akan tetapi, kata dia, pihak keluarga yakin bahwa Atut tak terlibat dalam kasus yang juga melibatkan mantan Ketua MK Akil Mochtar tersebut. "Kita sendiri yakin tak terlibat persolan itu, kita tunggu saja KPK, kalau diproses hukum, ya kita ikuti," katanya.

Seperti diketahui, pada Jumat 11 Oktober 2013 yang lalu, Ratu Atut Chosiyah diperiksa KPK sekira delapan jam. Saat itu, Atut diperiksa sebagai saksi guna melengkapi berkas tersangka Susi Tur Handayani.

Sebelumnya juga, KPK melalui pihak Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM), sudah mencegah Atut bepergian ke luar negeri selama enam bulan ke depan. Selain Susi Tur Handayani, KPK sudah menetapkan Akil Mochtar dan Tubagus Chaeri Wardana yang merupakan adik Ratu Atut dalam perkara dugaan suap senilai Rp3 miliar ini.

Thursday, 3 October 2013

Chairul Tanjung Tunjuk Presiden RI


Foto Chairul Tanjung (CT) menunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) beberapa hari ini ramai dibicarakan di sosial media. Sempat dikabarkan foto tersebut adalah rekayasa, ternyata foto itu adalah asli lantaran diunggah di situs resmi presiden, presidenri.go.id.

Dalam situs resmi presiden tersebut, ada keterangannya yang berbunyi, "Presiden SBY dan Ibu Ani meninjau fasilitas Hotel Sofitel sebagai lokasi penyelenggaraan KTT APEC, di Nusa Dua, Bali, Selasa (24/9) siang".

Tak cuma foto SBY dan Chairul Tanjung saja yang heboh di dunia maya, sebelumnya, banyak foto Presiden SBY yang juga jadi bahan perbincangan publik. Berikut foto-foto Presiden SBY yang sempat heboh,, Jumat

SBY Menjawab

Akhirnya SBY Bicara, wawancara SBY di MetroTV


SBY Menjawab Soal Hubungannya Dengan JK


Monday, 30 September 2013

Akhir Tragis Gerakan Penyelamatan






PENAHANAN - Sejumlah warga yang dianggap simpatisan dan kader PKI ditahan tanpa pengadilan. Sebanyak 1 juta jiwa dibunuh.

Fransisca R Susanti

Sabtu, 28 September 2013

“Tak ada yang peduli jika mereka disembelih, asalkan mereka komunis.”
(Pejabat Departemen Luar Negeri AS 1965, Howard Federspiel)

Desember 1964, sebuah laporan intelijen yang dikirim ke Beijing menulis, berdasarkan informasi dari Konsulat Amerika Serikat di Hong Kong, kesehatan Soekarno sudah dalam kondisi kritis dan para jenderal antikomunis kemungkinan akan melakukan tindakan pengambilalihan kekuasaan.

Laporan tersebut seolah memperkuat laporan Kedutaan Besar China di Jakarta yang diterima Beijing pada Agustus 1964, bahwa elemen sayap kanan dan imperialis geram dengan sikap Soekarno yang mulai berbelok ke kiri. Mereka akan berupaya mendongkel Soekarno. Konflik antara subversi dan kontra subversi akan lebih akut.”

Laporan sejenis beredar dan didengar hampir seluruh negara yang memiliki perwakilan di Indonesia. Bagi AS, Inggris, dan sekutunya, “info” ini penting.

Jika Partai Komunis Indonesia bisa diyakinkan bahwa para jenderal antikomunis berencana mengambil alih kekuasaan, PKI akan mendahului gerakan lewat sebuah kudeta yang—diharapkan—prematur. Jika gagal, ada dalih untuk melenyapkan mereka.

AS dan sekutunya serta Uni Soviet dan negara-negara sekawan sudah mulai gerah dengan pengaruh PKI yang terlalu kuat terhadap Soekarno. Pemimpin gerakan Non-Blok tersebut dinilai mulai condong ke China.

Arsip Kementerian Luar Negeri China mengungkap, seperti dikutip sejarawan, Taomo Zhou, dalam makalah ilmiahnya Ambivalent Alliance Chinese Policy towards Indonesia, 1960-1965 yang dirilis Agustus 2013, tahun 1964-1965, PKI dan China membentuk hubungan kerja sama berdasarkan persamaan kepentingan untuk mendorong Soekarno bergeser ke kiri dalam kebijakan nasional maupun luar negerinya. Salah satunya, PKI memainkan peran penting dalam mendesak Soekarno untuk tidak mengundang Uni Soviet ke Konferensi Asia-Afrika kedua.

China menginginkan Indonesia menjadi “motor” bagi negara-negara dunia ketiga di benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin, guna mengimbangi kekuatan AS di kutub Barat dan Uni Soviet di kutub Timur.

Wakil Perdana Menteri China saat itu, Chen Yi, dalam percakapan dengan Subandrio pada 24 Januari 1965, menyebut sosialisme masa depan bukan sosialisme ala Inggris atau Soviet, bahkan bukan ala Mao Zedong, tapi sosialisme ala Soekarno, yakni sikap anti-imperialisme dan antikolonialisme. Dengan demikia, membangun “kutub ketiga” untuk mengimbangi dua raksasa (AS dan Soviet) menjadi tak terelakkan.

Tentu saja, ambisi China ini membuat gerah. Maka sebuah “provokasi” pun dibangun untuk “menjebak” PKI.

Sejumlah dokumen dari beberapa negara (antara lain dokumen milik pemerintah AS, Inggris, Uni Soviet, Jepang, Jerman Barat dan Jerman Timur, serta pemerintah China dan Partai Komunis China) yang ditelusuri para sejarawan mengungkap banyak pihak terlibat, secara langsung maupun tidak langsung, dalam pembentukan Gerakan 30 September (G30S) 1965 dan pembantaian lebih dari satu juta kader dan simpatisan PKI yang terjadi setelahnya.

Itu sebabnya mengapa hampir seluruh negara dunia, kecuali China, bungkam terhadap pembantaian massal di Indonesia antara tahun 1965-1967 yang skala jumlah korbannya menduduki peringkat kedua di dunia setelah korban Nazi Jerman.

Pembantaian dan pemenjaraan berjuta orang tanpa pengadilan yang terjadi di seluruh Indonesia pasca-G30S, dilakukan secara sistematis sebagai upaya mengubah haluan ekonomi dan politik Indonesia.

G30S

Sebuah arsip Partai Komunis China yang ditelusuri Taomo Zhou mengungkap pertemuan Aidit bertemu Mao terakhir kali di Beijing pada 5 Agustus 1965. Saat itu Mao sempat bertanya, apa yang akan dilakukan PKI jika Soekarno meninggal dan jika tentara ambil alih kekuasaan. Aidit menjawab, ia akan melakukan serangan pendahuluan untuk mengantisipasi hal itu.

Dua bulan setelah pertemuan tersebut, G30S meletus. Tapi pembunuhan para jenderal sama sekali di luar skenario. Sejarawan Asvi Warman Adam, kepada SH, Sabtu (28/9) pagi, menjelaskan G30S pada awalnya adalah gerakan penyelamatan. Namun, skenario ternyata tidak berjalan sesuai rencana karena tewasnya enam jenderal dan seorang kapten.

Soekarno meminta gerakan tersebut dihentikan, segera setelah menerima laporan kematian para jenderal tersebut, tapi G30S menolak. “Saat itulah, gerakan tersebut berubah menjadi sebuah upaya kudeta,” ujar Asvi.

Sampai sekarang belum terungkap siapa memerintahkan penembakan, karena rencana awal adalah menyerahkan para jenderal tersebut dalam kondisi hidup ke hadapan presiden.

“Memang terjadi kecerobohan karena saat itu tidak ada komando yang jelas, tidak ada perintah yang jelas,” jelas Asvi.

Dalam pertemuannya dengan Mao, Aidit mengatakan kalaupun sebuah komite militer terbentuk (dalam upaya serangan pendahuluan), komite tersebut tidak akan dipertahankan dalam jangka panjang karena "akan membuat orang baik menjadi orang jahat".



Pembantaian



Persis pada 1 Oktober 1965, hampir semua Kedubes Asing yang ada di Jakarta mengirim kawat ke negaranya dengan nada serupa, yang intinya menyebut kemungkinan Soekarno tidak akan bisa kembali ke kedudukannya.

Aiko Kurasawa, sejarawan dari Keio University Jepang, dalam penelusuranya terhadap arsip Departemen LN Jepang menemukan, pada 1 Oktober 1965 Kedubes Jepang mengirim dua kali telegram ke Tokyo. Telegram terakhir dikirim jam 20.50 WIB, menjelaskan upaya Dewan Revolusi mengambil tindakan untuk mencegah kudeta para jenderal hanya dalih belaka. Laporan tersebut berdasarkan informasi dari “sumber khusus” kedutaan.

Menurut Ragna Boden, arsiparis di Lembaga Arsip negara North-Rhine Westphalia Duseseldorf, Jerman, apa yang disebut “sumber khusus” dalam dokumen-dokumen tersebut adalah tentara Indonesia.

G30S, seperti diceritakan sejarawan John Roosa, menciptakan dalih bagi AS dan sekutunya untuk menumpas PKI dengan memakai tentara Indonesia. Penangkapan jutaan simpatisan dan kader PKI serta pembunuhan brutal terhadap lebih dari 1 juta jiwa lainnya, menunjukkan upaya ini dilakukan secara sistematis. Bukan aksi “spontan” dari massa yang marah dengan PKI.

Dokumen yang ditelusuri sejarawan Universitas Princetown AS, Bradley Simpson, menunjukkan Duta Besar Inggris, Andrew Gilchrist, menyerukan propaganda dini yang direncanakan secara hati-hati dan aktivitas perang urat syaraf guna memperburuk perselisihan di dalam negeri serta memastikan pembasmian dan penghalauan PKI oleh tentara Indonesia.

Dibungkamnya media massa pada waktu itu, membuat nyaris tak ada catatan maupun dokumen publik tentang apa yang terjadi setelah G30S.

Perwira-perwira militer menemui para editor surat kabar yang masih punya izin terbit dan memperingatkan mereka, netralitas pemberitaan tidak akan dizinkan. Setiap berita yang kritis terhadap kampanye anti-PKI akan dianggap sebagai bukti simpati terhadap golongan komunis.

Inilah mengapa Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) perlu membuka akses mereka untuk publik agar kabut G30S dan pembantaian yang terjadi sesudahnya benar-benar bisa tersibak.

“UU Kearsipan Nomor 43/2009 jelas memungkinkan akses arsip-arsip itu (1965). Ini bisa menguak apa yang terjadi waktu itu. Dokumen yang diterima Arsip Nasional tentang PKI dan underbow di bawahnya sudah cukup banyak,” jelas mantan Kepala ANRI, Djoko Utomo. Ia menyayangkan keengganan ANRI baru-baru ini untuk membuka arsip 1965. “Ini ironis,” ujarnya.

Di tengah situasi ini, upaya Goethe Institut memfasilitasi sebuah konferensi internasional tentang 1965 di Jakarta tahun 2011 patut diapresiasi. Bernd Schaefer, peneliti senior untuk Cold War International History Project di Woodrow Wilson International Center menjadi inisiator awal konferensi ini.

Senin (30/9), catatan konferensi yang dikumpulkan dalam buku berjudul 1965 diluncurkan di Goethe. Head of Cultural Programme Goethe-Institut Jakarta, Katrin Sohns, menyebut apa yang dilakukan Goethe adalah upaya melawan lupa. Upaya memberi dorongan bagi Indonesia untuk mengakui sejarah mereka, dan berjanji untuk tidak mengulanginya. “Don’t forget, don’t repeat,” ujar Katrin Sohns.

Thursday, 12 September 2013

Monorel Buatan Indonesia Mulai Beroperasi



Tanpa ribut-ribut, PT. Melu Bangun Wiweka (MBW) sedang mengembangkan monorail lokal yakni monorail UTM-125 nya. Monorail yang berkapasitas 125 penumpang per gerbong dengan dua gerbong dan 22 tempat duduk tersebut diklaim memiliki komponen lokal sebesar 96% yang meliputi resources maupun teknologi.

“Monorail bukan satu-satunya solusi untuk masalah kemacetan, namun harus terintegrasi dengan transportasi umum lainnya seperti MRT. Monorail efisien karena diletakkan di atas jalan yang sudah ada tidak perlu pembebesan lahan yang luas,” ujar Direktur Utama PT. MBW, Kusnan Nuryadi.

Sayangnya, monorail tersebut belum belum dilakukan proses pengujian dan sertifikasi. Pengujian dan sertifikasi monorail lokal memerlukan satu train set prototype yang terdiri dari 3 car. Kemudian untuk mengetahui fungsi dan biaya yang lebih kuat perlu dibuat lintasan sepanjang 48M. Dan untuk mengetahui kehandalan, kenyamanan dan keamanan diperlukan lintasan test sepanjang 1500M. Lalu untuk menguji kelayakan operasional dibuat kriteria spesifikasi dan standar untuk sertifikasi.

Sementara itu Staf Ahli Bidang TIK dan Transportasi Ad.Interim Kementerian Riset dan Teknologi, Hari Purwanto saat kunjungan studi ke PT. MBW di Tambun Bekasi, mengatakan, kendaraan listrik menjadi perhatian pemerintah terutama untuk transportasi massal. Kemenristek fokus kepada hal tersebut karena electric car merupakan kendaraan yang murah, aman dan ramah lingkungan.

“Kami apresiasi dengan apa yang sudah dikembangkan MBW terutama karena telah melakukan kegiatan riset dan pengembangan secara mandiri. Ke depan teman-teman Ristek dan LPNK bisa lebih membantu,” kata Hari Purwanto.

Hal senada diungkap Tenaga Ahli Menristek Bidang Jaringan Publik, Sidki Wahab, yang mengatakan bahwa teknologi yang telah mampu dikembangkan oleh perusahaan lokal harus ditindaklanjuti dengan dukungan. Sehingga pemahaman antara pihak industri dan pemerintah sama.

Dalam kunjungan itu hadir Asisten Deputi Investasi Iptek, Agus Pudji Prasetyono, Asisten Deputi Iptek Pemerintah, Pariatmono, Kepala Biro Umum, Mujianto, dan undangan lainnya.

Dengan adanya monorail sebagai angkutan massal ini diharapkan menjadi salah satu alternatif mengatasi kemacetan. Dengan begitu dapat menampung penumpang dalam jumlah yang besar dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di jalan raya.

Monorail merupakan salah satu moda transportasi yang berbasis rell tunggal dengan penggerak berupa motor listrik. Rel monorail bisa berupa balok beton ataupun balok baja dan kendaraannya mencengkram rel tersebut (straddle type) atau menggantung (suspended). Desain guideway monorail ramping, tidak menghabiskan lahan dapat dipasang di media jalan dan masih banyak menghasilkan ruang terbuka.

Sistem transportasi ini dapat dijadikan alternatif angkutan massal perkotaan. Selain itu monorail cocok untuk angkutan perkotaan di Indonesia mengingat keterbatasan lahan dan kepadatan bangunan di kota-kota besar di Indonesia.

Abharam Samad Senang Andi dan Anas Segera Ditahan



Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad mengaku sangat senang andai mantan Menpora Andi Mallarangeng, dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum segera ditahan.

Sebab dia sudah berkali-kali menyatakan KPK segera menahan kedua politisi Partai Demokrat tersebut.

"Saya maunya sekarang segera ditahan. "Saya maunya sekarang segera ditahan. Kalau saya sih senang-senang saja. Itu saya pribadi, tapi saya harus melihat kesiapan penyidik. Apakah mereka sudah siap (menahan keduanya)," kata Abraham di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (11/9).

Abraham Samad kembali berjanji dalam waktu tidak terlalu lama Andi Mallarangeng yang akan ditahan duluan menyusul Anas Urbaningrung. "Kemarin kan jelas perhitungan kami, dan KPK tinggal jadwalkan kapan pemanggilan duluan terhadap mantan Menpora (Andi). Nanti saya akan tanya ke penyidik lagi. Kalau saya sih senang-senang saja," kata Abraham.

Dia meminta semua pihak tidak usah khawatir sebab KPK pasti akan menahan Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.

"Aneh, kalau Anda tidak yakin dan Anda curiga karena sekali lagi saya katakan orang yang sudah ditetapkan tersangka oleh KPK pasti akan ditahan. Tunjukkan kepada saya siapa tersangka KPK yang belum ditahan. Tapi memang ada yang butuh proses lama dan ada cepat," kata dia.

Andi dan Anas sama-sama politisi muda dan kader Partai Demokrat. Keduanya juga sama-sama kandidat ketua umum pada KongresPartai Demokrat 2010 di Bandung, yang dimenangi Anas.

Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Andi sebagai tersangka baru kasus dugaan korupsi pengadaan sarana dan prasarana olehraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 6 Desember 2012.

Artinya sudah 10 bulan Andi menjadi tersangka, tapi belum ditahan. Andi Alfian Mallarangeng selaku Menpora atau pengguna anggaran Kemenpora diduga melanggar Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Andi diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang yang menguntungkan diri sendiri atau pihak lain namun justru merugikan keuangan negara. Ancaman hukumannya, paling lama 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.



Sunday, 8 September 2013

Koruptor dari Kalangan Menengah Bawah

 Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad mengatakan praktik korupsi di Indonesia sudah menjangkiti semua sektor.
"Korupsi juga merasuk semua lembaga negara eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Karenanya, korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (Extra Ordinary Crimes)," ujar Abraham di Jakarta, Kamis (9/5/2013).

Abraham menambahkan tindak pidana korupsi sudah bukan lagi masalah lokal, melainkan suatu fenomena trans-nasional. Dimana, korupsi sudah memengaruhi masyarakat dan ekonomi.
"Sehingga mendorong perlunya kerjasama internasional dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi," katanya.

saat ini koruptor tidak hanya berasal dari kelas menengah ke atas tetapi juga sudah merambah ke kalangan menengah ke bawah. Karena itu, modus korupsi yang dilakukan bervariasi dan terus mengalami evolusi.

"Dahulu korupsi yang paling sederhana adalah manipulasi atau pungli sampai sekarang korupsi lebih canggih," katanya.

Korupsi bukan suatu gejala baru di Indonesia. Sejak zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) korupsi sudah dipraktikkan. Bahkan, korupsi kemudian menyebabkan kongsi dagang Belanda tersebut menjadi ambruk.
Ketidakjelasan antara ke­uangan pribadi dengan ke­uangan umum (negara) telah menyebabkan seseorang mela­kukan korupsi. Bukan korupsi saja, masalah penjualan jabatan negara (venality of office) sesungguhnya bukanlah ma­salah baru. Hal tersebut sudah diperkenalkan pada masa VOC dan bahkan dipraktikkan di dalam kerajaan-kerajaan di Indonesia sehingga, muncul konsep bahwa jabatan umum di dalam satu negara adalah juga satu sumber penghasilan.
Menurut Alatas (1981), korupsi dapat berupa penye­lewengan uang negara, pungutan liar atau pemerasan, uang pelicin dalam usaha menarik keuntungan dan lain sebagai­nya. Di bagian yang lebih terperinci dalam masyarakat korupsi terjadi, baik di kalangan menengah dan bawah, ataupun pada masyarakat kalangan atas.
Korupsi  di kalangan masya­rakat menengah dan bawahan hanya sekisaran penghasilan dan biasanya dihabiskan pada pada tingkat konsumsi kebu­tuhan keluarga. Sedangkan korupsi pada kalangan masya­rakat atas berjumlah besar serta dapat dilihat sebagai konsentrasi modal atau uang di tangan pribadi-pribadi tertentu.
Korupsi di kalangan peja­bat menengah dan bawahan dapat menyebabkan misalnya,Program-Program Pemberdaya Masyarakat Tidak Efektif,surat KTP tidak ada, izin usaha macet, pemilikan tak terdaftar, masuk sekolah tidak mulus, pengiriman barang yang menjadi mahal, tran­spor­tasi yang dipersukar, pungutan liar pada sopir yang berpen­dapatan rendah, surat izin yang sukar diperoleh, izin ini dan itu dan seterusnya, yang kese­muanya menunjukkan ditemu­kannya kesulitan dan kemacetan secara besar-besaran. Umum­nya, semua kesulitan dan ke­ma­cetan tersebut disebabkan oleh kecenderungan aparatur negara yang korupsi pada masyarakat tingkat menengah dan bawahan.

Korupsi memang bukan monopoli negara yang sedang membangun saja. Di negara yang sedang maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan lain sebagainya, skandal korupsi masih sering dite­mukan. Yang membedakannya dengan korupsi yang terjadi di negara berkembang adalah bahwa korupsi yang terjadi di negara maju bersifat politis, yang dilakukan oleh para politisi dalam rangka meme­nangkan sebuah suksesi pemi­lihan dan sejenisnya.

Oleh karena jangkauannya masih terbatas pada elite tingkat tinggi. Sedangkan ko­rupsi yang terdapat di banyak negara berkembang seperti Indonesia sudah bersifat wabah. Bahkan Bung Hatta pernah menggam­barkannya kondisi tersebut sebagai perilaku yang telah membudaya. Demi­kian­lah, ko­rupsi sudah mencapai tingkat “me­wabah”, yaitu sebuah kondisi yang tidak mungkin terban­tahkan. Namun demikian, per­nyataan bahwa ko­rupsi sudah me­rupakan ba­gian dari kebu­da­yaan, keliha­tan­nya banyak yang keberatan. Me­mang sulit untuk menya­ta­kan bahwa ma­syarakat sudah me­nerima ko­rupsi seba­gai bagian sestem nilai yang dia­nutnya.

Dari mana bermula ko­rupsi, dari kalangan bisnis, aparat pemerintah atau kala­ngan lain, tentunya sulit untuk ditentukan. Dalam lingkungan di mana penyuapan meru­pakan bagian dari kebiasan, maka kalangan dunia usaha lazimnya akan menyesuaikan diri. Bahkan, kemudian sering dianggap sebagai bagian dari praktik usaha yang tidak diper­tanyakan lagi. Bagi dunia usaha, penyua­pan atau apapun nama­nya berarti tambahan biaya. Dari tambahan biaya tersebut, selama masih bisa meng­hasilkan surplus atau laba yang dianggapnya wajar, maka  akan dilakukannya tanpa banyak keberatan.

Strategi Memberantas Korupsi
Di era reformasi sekarang ini upaya untuk melakukan pemberantasan terhadap ko­rupsi juga terus dilanjutkan, terutama dengan dibentuknya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun demikian, korupsi terus berlanjut sampai saat sekarang ini. Oleh karena itu, perlu kiranya langkah atau strategi untuk mengantisipasinya serta mengkikis habis praktik ko­rupsi di negara ini. Beberapa upaya tentunya dapat dilaku­kan, yaitu sebagai berikut :
Pertama, perlunya pene­gakan hukum. Di era reformasi penegakkan hukum merupakan suatu keharusan. Upaya pene­gakan hukum harus dalam arti bahwa segala macam tindakan yang melanggar hukum terma­suk para koruptor, mendapat ganjaran sesuai dengan per­buatan yang dilakukan.
Kedua,  sebelum diadakan pemilihan seorang pemimpin, mulai dari presiden, gubernur, bupati  dan pejabat  pemerintah lainnya, perlu dilakukan cek apakah seorang calon pemim­pin tersebut terindikasi mela­kukan tindak korupsi.
Pengecekan ini diperlukan mengingat bahwa pemimpin yang kita harapkan untuk masa depan negara ini adalah pemim­pin yang bersih dari segala tuntutan hukum termasuk korupsi.  Di era reformasi  se­sung­guh­nya langkah ini telah dilakukan ke beberapa aparat pemerintah, mulai dari tingkat pusat sampai tingkat tingkat daerah. Salah satunya dengan melaporkan segala macam kekayaan yang dimiliki oleh para penyelengara negara tersebut, yang secara tidak langsung merupakan satu upaya dari mencegah serta memo­nitor usaha ke arah korupsi.
Ketiga, perlu penanaman moral bagi para penyelengara negara khususnya dan ma­syarakat Indonesia pada umum­nya. Upaya penanaman moral merupakan suatu keharusan, karena tindakan korupsi sangat terkait dengan identitas moral seseorang. Selama moral seseo­rang baik, maka tindakan ko­rupsi tidak akan terjadi. Lebih lanjut, ketika berbicara ma­salah moral, maka tidak terle­pas dari apa yang disebut de­ngan jiwa keagamaan dari seseorang. Suatu ajaran agama, terutama agama Islam, upaya penamana moral yang baik sangat dituntut bahkan diwa­jibkan kepada semua umatnya.
Keempat, pendayagunaan fungsi pegawasan tentunya merupakan ikhtiar yang akan lebih sempurna pelaksanaannya setelah kita menelaah gejala-gejala yang berkaitan dengan manifestasi korupsi dalam masyarakat pada umumnya, dan khususnya dalam lingku­ngan aparatur pemerintahan yang bertugas mengelola pem­ba­ngunan. Tentunya, hal ini sangat ditentukan oleh adanya duku­ngan oleh berbagai faktor yang ada di dalam objek penga­wasan itu sendiri. Misalnya, adanya disiplin kerja yang memenuhi persyaratan manaje­rial akan melahirkan tenaga kerja yang jujur dan memiliki dedikasi tinggi terhadap tugas-tugasnya. Singkatnya, tertib kerja yang ditandai oleh di­siplin tinggi tentunya memper­mudah tugas pengawasan.
Baik korupsi di kalangan masyarakat kelas menengah, bawah dan atau masyarakat kalangan atas, harus mendapat perhatian serius. Suatu keharu­san tampaknya bagi semua ele­men masyarakat untuk mengi­kis habis korupsi di bumi In­donesia. Apalagi sekarang adalah masa reformasi, yang sa­lah satu program yang dica­nang­kan adalah menghapus segala macam bentuk praktik korupsi. Usaha mengikis habis praktik korupsi juga membu­tuh­kan eratnya kerja sama antar ele­men yang ada di dalam ma­syarakat.
Masyarakat bekerjasama dalam upaya mengikis praktik-praktik korupsi yang ada.  Kerja sama yang berkesinambungan, sekali lagi, merupakan hal mendasar yang harus ada dalam mengikis habis korupsi di negara kita. Oleh karena itu, apa yang terjadi di masa yang lalu tidak akan terulang lagi dan benarlah adanya ungkapan bijak bahwa, “belajar sejarah merupakan suatu hal yang baik untuk dapat melihat masa depan yang lebih baik.  Wasallam.

Saturday, 7 September 2013

pidato Jokowi di nilai sebagai sinyal nyapres


jeffriegeovanie_thumb.jpg

 Pengamat politik menilai pidato “Dedication of Life”, Bung Karno, yang dibacakan oleh Joko Widodo pada Rakernas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jakarta (6/9), sebagai sinyal pencapresan Jokowi.
Jeffrie Geovanie, anggota Dewan Pesehat CSIS dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, mengatakan, pidato yang dibacakan oleh Jokowi itu sebagai “sinyal politik” Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri buat khalayak nasional, agar bersabar menunggu kepastian buat pencapresan Jokowi.
Menurutnya, sinyal tersebut menunjukkan bahwa belum tepat waktunya Megawati mengumumkan pencapresan Jokowi.
“Sinyal politik sudah cukup pada Rakernas PDIP tahun ini, pengumuman yang tepat adalah awal Februari 2014,” katanya.
Oleh karena itu, kata Jeffrie, sinyal itu menjadikan rasa penasaran khalayak menjadi semakin besar dan itu sangat menguntungkan buat PDIP.
“Biarkan juga kita nikmati kasak kusuk tokoh-tokoh, yang berusaha mendekati Jokowi dan berharap akan dipilih oleh Megawati sebagai bakal wakil mendampingi Jokowi,” katanya.
Jeffrie memprediksi bahwa tahun 2014 akan menjadi tahun berjayanya kembali PDIP baik di pemilu legislatif maupun memenangkan pemilihan Presiden RI.
“Siklus 10 tahun buat PDIP, 10 tahun yang panjang dan tetap konsisten sebagai partai oposisi membuahkan dwi kemenangan yang spektakuler, sehingga akan dapat menjadi pelajaran berharga buat partai-partai lain,” katanya.(*)

Elektabilitas tinggi | Prabowo siap koalisi



Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto menyambut baik hasil survei dari Indonesia Network Election Survei (INES) yang menempatkan dirinya sebagai calon presiden (capres) dengan elektabilitas tertinggi.
Tak hanya itu, Prabowo pun menyampaikan terima kasih atas kepercayaan publik lewat survei tersebut.
“Hasil survei ini menyemangati saya dan Partai Gerindra untuk semakin giat konsolidasi dengan rakyat. Saya menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan kepada saya dalam survei ini,” ujar Prabowo Subianto dalam keterangan resminya, Sabtu (7/9/2013).
Disamping itu, dia mengaku prihatin atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini. “Saya akan terus mensosialisasikan program saya, untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang sudah carut marut saat ini,” katanya.
Maka dari itu, apapun yang terjadi, Prabowo akan tetap konsisten membela rakyat dan tegas menghadapi siapapun yang bisa mengganggu kepentingan rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Saya diberitakan akan dijegal konglomerat hitam dan para koruptor. Saya tidak takut, yang penting rakyat mencintai saya,” tuturnya.
Seperti diketahui, menurut hasil survei yang diumumkan oleh INES pada Kamis 5 September 2013, menyatakan bahwa Prabowo Subianto berada pada posisi pertama. Jika Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dilakukan saat ini, maka yang akan banyak terpilih adalah Prabowo, dengan angka 34,6 persen.
Selain itu, hasil survei menunjukan Prabowo mendapat angka tingkat kesukaan tertinggi dari masyarakat dalam kepemimpinan, yaitu sebesar 98,7 persen. Dalam survei yang dilakukan di 33 Provinsi dengan sampel sebanyak 8.280 responden ini menilai Prabowo mendapat tingkat kesukaan tertinggi karena sosok yang tegas, jujur, tidak peragu, bersih, tidak korupsi dan mempunyai sikap nasionalisme yang jelas.

Saturday, 31 August 2013

Indonesia minta AS tunda serangan ke Suriah


Amerika Serikat telah menggeser armada tempurnya ke Suriah dan siap melakukan serangan. Mereka menuding Rezim Suriah menggunakan senjata kimia untuk melakukan pembunuhan massal.

Indonesia telah meminta Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel untuk menunda serangan. Indonesia meminta AS membuktikan lebih dulu soal penggunaan senjata kimia tersebut.

"Kita minta menunggu dalam beberapa waktu ini agar kita betul-betul memastikan mengenai senjata kimia," kata Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat (30/8).

Menurut Purnomo, saat ini dewan keamanan PBB telah menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah. Tim masih bekerja dan belum melaporkan hasilnya. Indonesia meminta AS menahan diri dan tak melangkahi kebijakan dewan keamanan PBB.

"Saya sampaikan bahwa posisi Indonesia lebih baik kita menunggu dulu sampai nanti hasil dari security council, yaitu dewan keamanan PBB. Dan itu sekarang timnya lagi di sana kan walaupun belum selesai," tegas Purnomo.

Saat ini Kapal-kapal perusak AS sudah ada di kawasan itu, di antaranya USS Ramage, USS Barry, dan USS Gravely, yang telah berpatroli di perairan Laut Mediterania. Mereka dapat meluncurkan rudal Tomahawk mereka ke arah Suriah, jika diperintahkan oleh Presiden Amerika Barack Hussein Obama.

Wednesday, 28 August 2013

Profil Sudjiwo Tedjo


SUJIWO TEJO dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan. Karya dan pentasnya mengajak kita untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang dibanggakannya. Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya tapi diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolism itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, Indonesia akan dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern.
Lahir di Jember, 1962
Pendidikan formal:

Jurusan Matematika ITB (1980-1985)
Jurusan Teknik Sipil ITB (1981-1988)

WAYANG





2004 Mendalang keliling Yunani
1999 Menggelar wayang acapella dengan lakon “Pembakaran Shinta” di Pekan Budaya VIII Universitas Parahyangan Bandung dan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta
1999 Membentuk Jaringan Dalang, bersama para dalang alternatif
1994 Menyelesaikan 13 episode Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia.
1994 Mendalang wayang kulit sejak anak-anak dan mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul: Semar Mesem

PANGGUNG TEATER




2009 Dongeng Cinta Kontemporer II – Sujiwo Tejo “Kasmaran Tak Bertanda” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta, (13 – 14 November)
2009 Pagelaran Loedroek tamatan ITB ''MARCAPRES'' (Sutradara dan Pemain), Gedung Kesenian Jakarta (28 Juni)
2009 Dongeng Cinta Kontemporer I – Sujiwo Tejo “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (28 – 29 Mei)
2008 Pementasan Pengakuan Rahwana (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (6 Desember)
2008 Pementasan ludruk dengan lakon “Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana Budaya Ganesa, (30 November )
2007 Pentas Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta, 2007.
2006 Freaking Crazy You (sutradara) Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
2005 Battle of Love (Sutradara), Gedung Kesenian Jakarta, 2005.
2006 Pentas Kolosal Pangeran Pollux (Sutradara), JHCC, 2006.
2005 Pentas Kolosal Pangeran Katak (Sutradara), JHCC, 2005.
1999 “Laki-laki”, Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999; kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata.
1989 “Belok Kiri Jalan Terus”, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, 1989; untuk mas kawin pernikahannya

MUSIK
sebagai komponis, arranger, player dan penyanyi:


2007 Album Presiden Yaiyo
2005 Album Syair Dunia Maya
1999 Album Pada Sebuah Ranjang
1998 Album Pada Suatu Ketika
video klipnya meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000.

Lain-Lain:

1999 Menjadi nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia.
1986 - 1991 Mengisi acara Sastra Humor di Radio Sponsor of the literature of humor in Continental FM Radio, Radio Estrelita Radio and Radio Ardan Radio di Bandung
1983 Membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi, 1983
1983 Tinjuan kebudayaan di Iran sambil muter film Kafir
1983 Menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran, dekade 80-an
1979 Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso.
1978 Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember



FILM

sebagai aktor:
2009 Capres
2008 Kawin Laris
2008 Aborsi,
2006 Malam Jumat Kliwon
2006 Kala
2005 100 Persen Sari
2005 Janji Joni
2003 Sumanto
2001 Kafir
1996 Telegram



sebagai sutradara:

2010 (akan direlease) Bahwa Cinta Itu Ada
2007 Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang
2006 Dokumenter Apank Sering Lupa
2005 Dokumenter Kisah dari Mangarai

BUKU DAN TULISAN
2009 - sekarang : Kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos,
2003 The Sax, Penerbit Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta ISBN 9799714826
2002 Dalang Edan, Penerbit Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, ISBN 9799649641
2001 Kelakar Madura buat Gus Dur, Penerbit Lotus, Yogyakarta, Indonesia
1980 Menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita pada penghujung
1985 - sekarang : Menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel di koran



LUKISAN
Tahun 2008:
Mei Pameran Tunggal ’Semar Nggambar Semar’, Jogja Gallery, Yogyakarta. (10 – 16 Mei)
Maret Pameran Tunggal ’Super Semar Mesem’, Galeri Surabaya. (11 Maret)
Juni Pameran Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta, (Juni)
Juli Pameran Bersama di Café De La Rose, Jakarta (Juli)

Tahun 2007:
1. Pameran Tunggal ’Hitam Putih Semar Mesem’, Balai Kartini, Jakarta (1 November)
2. Pameran Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta.

Sunday, 25 August 2013

SBY Perlihatkan foto semasa pacaran dengan Ani

Kurang lebih sembilan tahun jadi Presiden, SBY tampaknya sedikit mulai terbuka ke publik menceritakan masa lalunya. Di Facebook misalnya, SBY memerlihatkan foto-fotonya di kala muda, dan saat-saat bertemu Ani Yudhoyono.
Pertemuan Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono pertama kali terjadi saat ia duduk di tingkat empat AKABRI melapor pada Gubernur Sarwo Edhie Wibowo, untuk memberi sambutan peresmian Balai Taruna.
Saat itu, Ibu Ani yang tengah berlibur di Lembah Tidar, berkenalan dengan Presiden SBY. Awalnya, ayah SBY yang pensiunan Danramil kaget dengan pertemanan putranya dengan putri seorang jenderal.
Namun faktanya, keluarga kecil SBY-Ani selalu harmonis karena dilandasi sikap saling menghormati dan musyarawah dalam pengambilan keputusan.
Presiden SBY juga tahu kapan harus turun tangan menyelesaikan tantangan dalam berkeluarga, dengan mengedepankan cara yang santun.
"Bagi Presiden SBY, Ibu Ani tidak sekadar istri dan ibu dari kedua putranya. Ibu Ani sekaligus menjadi teman diskusi, sekretaris pribadi, dan pendengar yang baik," seperti tertulis di Facebook SBY.
Sebelum menikah, SBY mengirimkan surat kepada Jenderal Sarwo Edhie Wibowo (Ayah dari Ibu Ani Yudhoyono) yang menyatakan keinginannya untuk meminang Ibu Ani.
Saat itu, keluarga Ibu Ani sedang berada di Korea Selatan, karena Jenderal Sarwo Edhie Wibowo sedang ditugaskan menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan.
Awal Agustus 1975, Ibu Ani kembali ke Jakarta. Di saat yang sama, SBY justru ditugaskan ke Amerika Serikat, mengikuti Airborne and Ranger Course di Fort Benning.
Sekembalinya dari Negeri Paman Sam, SBY menikahi Ani pada 30 Juli 1976 di Hotel Indonesia, Jakarta. (*)

Kahar Muzakir kembali diperiksa KPK dalam suap PON Riau

Anggota Komisi X DPR Fraksi Partai Golkar, Kahar Muzakir kembali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus suap pembahasan Perda PON Riau. Kahar jadi saksi untuk Gubernur Riau Rusli Zainal yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut.

"Diperiksa sebagai saksi," ujar Kabag Pemberitaan dan Informasi, Priharsa Nugraha dalam pesan singkat kepada wartawan, Senin (26/8).

Kahar sendiri telah hadir di KPK sekitar pukul 08.41 WIB. Kahar yang mengenakan batik itu lolos dari pantauan wartawan.

Diketahui, penyidik KPK telah menggeledah ruangan kerja anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Kahar Muzakir di lantai 12 Gedung Nusantara I DPR, pada 19 Maret lalu. Pada hari yang sama, penyidik juga menggeledah ke ruang kerja Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto.

Dalam kasus ini, Rusli Zainal diduga bertemu Setya Novanto di Senayan untuk melobi proposal penambahan dana PON Riau dari APBN sebesar Rp 290 miliar. Penyidik menduga, ruangan Setya dipakai buat negosiasi pengajuan anggaran pengubahan Peraturan Daerah oleh Rusli Zainal, terkait pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional di Riau pada 2012.

Dalam kesaksian tersangka Lukman Abbas di persidangan, untuk memuluskan APBN ini mereka kasih Rp 9 miliar lebih dalam bentuk dolar ke Kahar Muzakir, anggota Komisi X DPR RI Partai Golkar.
DMCA.com