alt/text gambar
Showing posts with label Profil. Show all posts
Showing posts with label Profil. Show all posts

Friday, 6 November 2015

MotoGP Valencia, Ini Syarat Agar Rossi Bisa Juara Dunia

Peluang Valentino Rossi menjadi juara dunia tahun masih terbuka. Meski ia harus memulai start dari urutan paling belakang.  

"Sangat sulit menyebutkan peluang saya untuk menang atau kalah. Kita harus berusaha," kata Rossi. Ia menyatakan harus memiliki strategi yang tepat di Valencia. 

Rossi bisa menjadi juara dunia, jika ia berhasil finis di urutan kedua sementara rekan setimnya dari Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo, berada di podium pertama. 

Rossi juga masih bisa juara dunia, jika Lorenzo berada di posisi kedua saat berlaga di Valencia, sementara Rossi naik di podium tiga. 

Rossi juara dunia jika finis urutan keenam atau lebih baik jika Lorenzo naik podium di urutan ketiga. 

Atau Lorenzo menduduki peringkat keempat dalam laga terakhir musim ini, sedangkan Rossi finis di urutan kesembilan atau lebih baik. 

Dan yang terburuk adalah Lorenzo berada di urutan kesepuluh atau lebih buruk enam poin atau lebih kecil sedangkan Rossi finis di urutan mana pun. 

Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menolak permintaan Valentino Rossi untuk menunda pemberlakuan hukuman Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM) atas pembalap Italia ini. Rossi dijatuhi penalti tiga poin setelah terbukti menyebabkan Marc Marquez terjatuh dan tidak bisa meneruskan pertandingan di sirkuit Sepang, 25 Oktober 2015.

Rossi berharap situasi di lapangan dapat berlangsung tenang. Tiket sudah laku terjual untuk 110 ribu penggemar MotoGP pada Minggu, 8 November 2015. 

"Saya harap semuanya berjalan normal, akhir pekan di Valencia selalu luar biasa karena inilah balapan terakhir dan kita akan tahu juaranya," kata Rossi, juara dunia kelas MotoGP tujuh kali.

Wednesday, 30 October 2013

The Paps


Tidak banyak Band di Indonesia yang memainkan jamaican sound. Namun, berbekal semangat kebebasan sekumpulan anak muda asal Bandung mendirikan The Paps, sebuah grup musik beraliran jamaican sound.
Adalah Daniel (gitar/-sampler), Sagit (gitar), Ganjar (drum) dan Dave (vokal) yang merupakan teman nongkrong dan sama-sama menyukai musik reggae.
Pemilihan musik reggae oleh band ini tidak sembarangan. “Reggae adalah puncak dari segala musik,” tutur Daniel ketika berbincang dengan detikbandung, beberapa waktu lalu.
Namun bagi band yang berdiri sejak 2003 lalu ini, reggae adalah irama musik kebebasan. “Kita suka kebebasan dan reggae musiknya bebas,” tutur Sagit.
Pemilihan nama band sendiri bisa dibilang cukup sederhana. “Kenapa The Paps? ya karena kata itu keren dan catchy. Selain itu, kita kan laki-laki semua jadi bakal jadi papa-papa. Jadilah The Paps,” tukasnya.
Di awal-awal perjalanannya, The Paps masih mengcover lagu-lagu Bob Marley. “Waktu dulu belum pure lagu sendiri. Masih bawain lagu orang. Biasanya lagunya Bob Marley,” ujar Daniel.
Perjalanan The Paps terus berkembang hingga tahun 2005 terpilih menjadi salah satu pengisi album kompilasi bersama band-band indie Bandung lainnya.
“Waktu 2005 ada kompilasi Indonesian Reggae Revolution 1 dan kita masukin single ‘Hang Loose Baby’,” ujar Dave.
Mulai 2007, band yang sempat mengeluarkan single ‘Life is a Big Joke’ ini akhirnya murni membawakan lagu mereka sendiri.
“Tahun 2007 kita mengeluarkan album perdana bertitel ‘Hang Loose Baby’. Diangkat dari single kita dulu. Isinya banyak bercertia mengenai hubungan masnusia dan manusia,” tutur Sagit.
Dari sana, tanggapan publik kepada The Paps semakin bagus. Alhasil tawaran manggung pun semakin membanjir.
“Kita sampai bisa main keluar acara komunitas seperti Agustusan hingga kawinan. Juga tampil bersama band reggae yang lebih dulu ada seperti sub kultur dan rasmadya,” papar Dave.
Band yang banyak terinspirasi oleh grup black music dan jamaican eclectic sound seperti Lord Tanamo (Jamaica), Panda Bear (Brooklyn), Angkatan Udara dan Los Jakartos ini mengaku berharap bisa tampil di hadapan publik internasional.
“Kita ingin bisa tampil di Eropa, utamanya di Belanda,” tutur Dave yang diamini personel lainnya.

Saturday, 5 October 2013

Profile Tony Q Rastafara II

Anak kampung yang berontak dari pabrik kaleng.
Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagu-lagunya direkam Putumayo label tersohor dunia untuk world music. Sohor di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa.
Inilah reggaeman kita yang selalu bersahaja
SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, dibahasnya bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!
Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album barunya, Anak Kampung, yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.
Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.
Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Setahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.
Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.
Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan mas tony ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga mas tony dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma mas tony dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!
Selama bersama mereka, mas tony nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.
Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. mereka janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena mas tony pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio ma stony coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi ma stony harus memilih satu di antaranya.
Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.
Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
mas tony nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, dia punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Dia ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band
Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.
Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, mas tony terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal dia banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!
Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, dia mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!
Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.
Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.
Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.
Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?
Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…
Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore(music-music yg aliranya keras). Dulu dia Rambutnya panjang belum digimbal kaya sekarang.
Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, tony Q dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke mas tony, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, mas tony kenalin ke Steven. Dan akhirnya Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, mas tony Q senang sekali melihat Steven coconuttrezz yang sekarang dah sangat berkembang
boleh dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan enam album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), anak kampong (2007)
Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.
Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.
Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” katanya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, GangstaRasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering dulu waktu peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.
Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Dan kabarnya Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.
April tahun kemarin, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”
Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.
Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gigs reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.
PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.
zaman dulu semua nama band yang didirikannya hampir semuanya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar, “Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.
Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai.


Tony Q Rastafara – Bakso Donk
Tony Q Rastafara – AsapPutih
Tony Q Rastafara – Cahayamu
Tony Q Rastafara – Dont Worry (Feat Steven and Coconuttreez)
Tony Q Rastafara – Gadis Andalas
Tony Q Rastafara – Get Up Stand Up
Tony Q Rastafara – Hanya Untukmu
Tony Q Rastafara – Ngajogjakarta
Tony Q Rastafara – Ngajogjakarta (Original Version)
Tony Q Rastafara – Om Funky
Tony Q Rastafara – Paris Van Java
Tony Q Rastafara – Pesta Pantai
Tony Q Rastafara – Rambut Gimbal
Tony Q Rastafara – Sapu Tangan Putih
Tony Q Rastafara – Waiting Tresno
Tony Q Rastafara – Oh…Ya
Tony Q Rastafara – Misteri Kehidupan
Tony Q Rastafara – Aku Masih Menunggu
Tony Q Rastafara – Kembalilah Kasih
Tony Q & Rastafara – Aku Sayang Kamu
Tony Q Rastafara – Preman Buronan
Tony Q Rastafara – Lively Up Your self
Tony Q Rastafara – Semua Untuk Mu ( Versi Live )
Tony Q & Rastafara feat Krisdayanti – Cintaku
Tony Q Rastafara – This Song Of Labour
Tony Q Rastafara – Don’t Worry Uyee..(Original Vers)
Tony Q & Rastafara – Goyang Kamu Seksi ( versi )
Tony_Q_-_Rastafara_-_Peace_With_Love
Tony Q & Rastafara – Ice cream
Tony Q & Rastafara – Yang Terulang
Tony Q & Rastafara – untukmu kasih




Tony Q Rastafara – Woman
Tony Q Rastafara -This Is My Way
Tony Q Rastafara – Tertanam
Tony Q Rastafara – Reggae Dot Com
Tony Q Rastafara – Ojolali
Tony Q Rastafara – Mencium Bulan
Tony Q Rastafara – Lukisan Cinta (Accoustic Version)
Tony Q Rastafara – Liburan
Tony Q Rastafara – Ketika
Tony Q Rastafara – Anak Kampung
Tony Q Rastafara – Ada Gula Ada Semut
 

Wednesday, 28 August 2013

Profil Sudjiwo Tedjo


SUJIWO TEJO dikenal sebagai seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan. Karya dan pentasnya mengajak kita untuk mengenang masa depan karena masa depan kita ada di belakang, ada pada akar budaya Indonesia yang dibanggakannya. Keinginannya mengangkat akar budaya Indonesia menghasilkan kepeduliannya yang tinggi agar kesenian Indonesia merujuk pada akar budaya tapi diolah dengan metabolisme kreatif sehingga tidak menjadi kuno. Dalam metabolism itu tetap dicerna seluruh hal yang datang dari luar. Dengan pendekatan ini, Indonesia akan dikenali juga sebagai negara yang memiliki seni dan budaya yang modern.
Lahir di Jember, 1962
Pendidikan formal:

Jurusan Matematika ITB (1980-1985)
Jurusan Teknik Sipil ITB (1981-1988)

WAYANG





2004 Mendalang keliling Yunani
1999 Menggelar wayang acapella dengan lakon “Pembakaran Shinta” di Pekan Budaya VIII Universitas Parahyangan Bandung dan Pusat Kebudayaan Perancis Jakarta
1999 Membentuk Jaringan Dalang, bersama para dalang alternatif
1994 Menyelesaikan 13 episode Ramayana di Televisi Pendidikan Indonesia.
1994 Mendalang wayang kulit sejak anak-anak dan mulai mencipta sendiri lakon-lakon wayang kulit sebagai awal profesinya di dunia wayang dengan judul: Semar Mesem

PANGGUNG TEATER




2009 Dongeng Cinta Kontemporer II – Sujiwo Tejo “Kasmaran Tak Bertanda” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta, (13 – 14 November)
2009 Pagelaran Loedroek tamatan ITB ''MARCAPRES'' (Sutradara dan Pemain), Gedung Kesenian Jakarta (28 Juni)
2009 Dongeng Cinta Kontemporer I – Sujiwo Tejo “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu” (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (28 – 29 Mei)
2008 Pementasan Pengakuan Rahwana (Sutradara, aktor, dalang), Gedung Kesenian Jakarta (6 Desember)
2008 Pementasan ludruk dengan lakon “Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana Budaya Ganesa, (30 November )
2007 Pentas Semar Mesem, Gedung Kesenian Jakarta, 2007.
2006 Freaking Crazy You (sutradara) Gedung Kesenian Jakarta, 2006.
2005 Battle of Love (Sutradara), Gedung Kesenian Jakarta, 2005.
2006 Pentas Kolosal Pangeran Pollux (Sutradara), JHCC, 2006.
2005 Pentas Kolosal Pangeran Katak (Sutradara), JHCC, 2005.
1999 “Laki-laki”, Gedung Kesenian Jakarta dan Teater Utan Kayu, 1999; kolaborasi dengan koreografer Rusdy Rukmarata.
1989 “Belok Kiri Jalan Terus”, Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, 1989; untuk mas kawin pernikahannya

MUSIK
sebagai komponis, arranger, player dan penyanyi:


2007 Album Presiden Yaiyo
2005 Album Syair Dunia Maya
1999 Album Pada Sebuah Ranjang
1998 Album Pada Suatu Ketika
video klipnya meraih penghargaan video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia 1999, dan video klip lainnya merupakan nominator video klip terbaik untuk Grand Final Video Musik Indonesia tahun 2000.

Lain-Lain:

1999 Menjadi nominator Most Wanted Male yang digelar MTV Asia.
1986 - 1991 Mengisi acara Sastra Humor di Radio Sponsor of the literature of humor in Continental FM Radio, Radio Estrelita Radio and Radio Ardan Radio di Bandung
1983 Membuat hymne jurusan Teknik Sipil ITB pada Orientasi Studi, 1983
1983 Tinjuan kebudayaan di Iran sambil muter film Kafir
1983 Menata musik untuk berbagai pementasan teater di Bandung, seperti Studi Teater Mahasiswa ITB dan Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film Universitas Padjadjaran, dekade 80-an
1979 Juara I dalam Festival Lagu Rakyat se Karesidenan Besuki di Bondowoso.
1978 Juara II dalam Festival Lagu Rakyat se-Karesidenan Besuki di Jember



FILM

sebagai aktor:
2009 Capres
2008 Kawin Laris
2008 Aborsi,
2006 Malam Jumat Kliwon
2006 Kala
2005 100 Persen Sari
2005 Janji Joni
2003 Sumanto
2001 Kafir
1996 Telegram



sebagai sutradara:

2010 (akan direlease) Bahwa Cinta Itu Ada
2007 Dokumenter Empu Keris di Jalan Padang
2006 Dokumenter Apank Sering Lupa
2005 Dokumenter Kisah dari Mangarai

BUKU DAN TULISAN
2009 - sekarang : Kontributor tetap Kolom Mingguan, Wayang Durangpo, Jawa Pos,
2003 The Sax, Penerbit Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Jakarta ISBN 9799714826
2002 Dalang Edan, Penerbit Aksara Karunia, Jakasampurna, Bekasi, Indonesia, ISBN 9799649641
2001 Kelakar Madura buat Gus Dur, Penerbit Lotus, Yogyakarta, Indonesia
1980 Menulis puisi dan cerita pendek untuk berbagai majalah hiburan, seperti Gadis and Anita pada penghujung
1985 - sekarang : Menulis laporan-laporan pertunjukan musik, teater, tari dan pameran seni rupa, artikel-artikel di koran



LUKISAN
Tahun 2008:
Mei Pameran Tunggal ’Semar Nggambar Semar’, Jogja Gallery, Yogyakarta. (10 – 16 Mei)
Maret Pameran Tunggal ’Super Semar Mesem’, Galeri Surabaya. (11 Maret)
Juni Pameran Bersama di Galeri Rumah Jawa, Jakarta, (Juni)
Juli Pameran Bersama di Café De La Rose, Jakarta (Juli)

Tahun 2007:
1. Pameran Tunggal ’Hitam Putih Semar Mesem’, Balai Kartini, Jakarta (1 November)
2. Pameran Tunggal bulanan di Viky Sianipar Music Center, Jakarta.

Saturday, 24 November 2012

Toni Q Rastafara

Nama lahir : Toni Waluyo Sukmoasih
Nama lain : Tony Q
Lahir pada : 27 April 1961 (umur 50) Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Jenis Musik : Reggae
Pekerjaan : Musisi, Penyanyi
Instrumen : Gitar
Tahun aktif : 1989 - sekarang
Hubungan Dipengaruhi : Bob Marley
Situs resmi : www.tonyqrastafara.net

Tony Waluyo Sukmoasih (populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara; lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1961; umur 50 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia beraliran reggae yang telah aktif di ragam tersebut sejak tahun 1989. Dia bersama grup musiknya Rastafara memopulerkan istilah "rambut gimbal" (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama pada tahun 1996. Tony Q telah menjadi ikon musik reggae Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor reggae di Indonesia, karena dia tak hanya berkecimpung di ragam tersebut sejak lama, namun juga mengembangkan karakter musik reggaenya sendiri, dimana dia memasukkan banyak unsur tradisional Indonesia ke musiknya, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia dalam musiknya.
Tony Q adalah seorang lulusan STM Perkapalan di Semarang. Sebelum terjun ke dunia musik, pada tahun 1980 Tony Q pernah bekerja selama enam bulan di bagian quality control (pengendalian mutu) di sebuah pabrik pengalengan milik perusahaan Singapura di Cakung, Jakarta Timur. Namun kemudian dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih untuk menjadi pengamen di jalanan dan seorang musisi, menghadapi tentangan keras keluarganya. Dia sempat menjadi pengamen selama lima sampai enam tahun di daerah Blok M, Jakarta.

Menurut wawancara dengan Tony Q di Radio Nederland Wereldomroep, sebelum terjun di musik reggae, dia pernah memainkan blues, rock, bahkan musik country. Tahun 1989 dia akhirnya memilih menekuni musik reggae yang menurutnya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Tony Q mengaku sangat mengidolakan Bob Marley, almarhum musisi reggae kenamaan asal Jamaika.

Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997).
Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan Tony Q, dengan lirik lagu yang banyak bertema sosial, kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang populer adalah "Rambut Gimbal", sebuah istilah untuk gaya rambut dreadlock yang kerap digunakan oleh pengikut Gerakan Rastafari, yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia yang menjadi populer karena lagu tersebut.
Rastafara saat itu dinilai berbeda dengan grup musik reggae lainnya karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional khas Indonesia ke dalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang Sunda atau Gamelan Jawa ikut menambah warna musik dalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.
Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Tony Q kemudian melanjutkan kariernya dengan membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaitu Tony Q Rastafara.

Karier musik solo
Tahun 2000 Tony Q yang sekarang dikenal dengan nama Tony Q Rastafara berhasil merilis album solonya yang pertama, "Damai Dengan Cinta" tanpa dinaungi perusahaan rekaman. Pada album solo pertamanya ini Tony Q mulai mengalami puncak kariernya dalam musik reggae. Setelah mendengar album pertamanya tersebut, seorang profesor di bidang musik dari Kanada memberikan Tony Q referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika Serikat. Pihak penyelenggara festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di demo tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara yang sama pada tahun 2002. Namun keberangkatan Tony Q beserta rombongannya ke festival tersebut terpaksa batal karena mereka tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait terjadinya "Peristiwa 9/11" di Amerika Serikat yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q.
Tahun 2003 Tony Q Rastafara merilis album solonya yang kedua berjudul "Kronologi". Lagu dalam album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album Tony Q sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Tahun 2005 Tony Q merilis album "Salam Damai". Dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur instrumen tradisional Indonesia. Dalam album tersebut terdapat lagu dengan lirik bahasa Sunda ("Paris Van Java") dan Jawa ("Ngajogjakarta") yang semakin menambah kental unsur tradisional Indonesia dalam musik reggae.
Pada tahun 2005 lagu "Pat Gulipat" dari album solo pertamanya "Damai Dengan Cinta", masuk ke dalam album kompilasi musik "Reggae Playground" yang dirilis bulan Februari 2006 di bawah perusahaan rekaman Putumayo World Music, sebuah label rekaman yang berbasis di New York, AS.
Tahun 2009 Tony Q merilis album "Presiden" dalam rangka maraknya Pemilu 2009 di Indonesia. Menurut Tony Q, album ini dirilis untuk memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu bagaimana menyikapi kondisi politik saat itu. Musik dalam album ini kembali menghadirkan unsur tradisional Indonesia seperti kendang Sunda, gamelan, sitar Jawa, tamburin, bahkan trompet reog.

Prestasi
Headliners “Bob Marley Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2002)
Invitation “Legend of Rasta Reggae Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2003-2005)
Putumayo World Music Album Compilation, “Reggae Playground” – single “Pat Gulipat” (2006)





Diskografi

Album
Rambut Gimbal (1996) - Hemagita Record
Gue Falling in Love (1997) - Blackboard Record
Damai Dengan Cinta (2000) - AK Production
Kronologi (2003) - Indonesia Rasta Production


Salam Damai (2005) - IM Production
  1. Om Fangke
  2. Salam Damai
  3. Ngayogjokarto
  4. Paris Van Java
  5. Lady White
  6. Gadis Andalas
  7. Cahayamu
  8. Yang Terulang
  9. Don’t Worry… U Yeah
  10. Peace With Love


Anak Kampung (2007) - Tony Q Production / 267 Record

  1.  Woman
  2.  Reggae Dot Com
  3.  This Is My Way
  4.  Tertanam
  5.  Liburan
  6.  Ada Gula Ada Semut
  7.  Ketika
  8.  Ojo Lali
  9.  Mencium Bulan
  10.  Anak Kampung


Presiden (2009) - Tony Q Production



Presiden adalah album studio musik reggae ketujuh karya penyanyi reggae Indonesia Tony Q Rastafara, yang dirilis pada tahun 2009. Album Presiden ini sudah direkam oleh Tony mulai tahun 2004 namun baru dirilis tahun 2009 saat dilaksanakannya Pemilu 2009 di Indonesia saat itu. Saat pertama dirilis, album Presiden hanya dirilis dalam edisi terbatas dalam jumlah sekitar kurang lebih 2.000 keping CD dan tidak dalam bentuk kaset. Hit singel dalam album ini adalah lagu "Republik Sulap".

Album Presiden dirilis oleh Tony Q dalam rangka maraknya pemilu 2009 di Indonesia saat itu. Menurutnya, konsentrasi album ini adalah penyadaran untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu menyikapi kondisi politik serta hati-hati dalam memilih presiden Indonesia saat itu.


Album studio CD oleh Tony Q Rastafara


Dirilis: 2009
Direkam: 2004
Genre: Reggae
Durasi: 32:20
Label: Tony Q Production



TRACK :
"Republik Sulap" (3:14)
"Lop Song" (3:14)
"Bla Bla Bla" (2:49)
"Politik" (4:00)
"Krisis Kepercayaan" (3:05)
"Wake Up" (2:32)
"Manteman" (3:08)
"Matahariku" (2:48)
"Presiden" (7:27)

  1. Akustik Kurang Tambah (2010) - Tony Q Production
  2. Bumi Menunggu
  3. Kong Kali Kong
  4. Mendaki Gunung
  5. Senja Jingga
  6. Aku Bukan Nabi
  7. Semut Gajah
  8. Don’t Worry U…Yeah
  9. Minggu Malas
  10. Tarian Moyang
  11. Gue Bukan Superman
  12. Kangen

Single & Kompilasi
• “Aku Anak Kampung”, (2005) IRR Compilation Album
• “Pat Gulipat”, (Damai dengan Cinta, 2000) Putumayo World Music
• OST Ai Lop Yu Pul (2009), Maleo Entertainment

Monday, 5 November 2012

Tepenk(Steven jam) Di Steven and Coconutreez

Steven Jam.. kalau mendengar nama tersebut pasti sudah tidak asing lagi di telinga para pencinta musik reggae, ya.. bagaimana tidak?.. secara Steven Jam adalah salah satu musisi Reggae ternama di Tanah Air dengan hits lagunya yang berjudul "Menari" salah satu lagu yang ada di Album pertamanya dengan konsep Solo "Feel The Vibration".
Musisi yang sering di panggil Tepenk ini, juga Vocalis dari grup band yang masih beraliran Reggae, "Steven and Coconutreez" yang dibentuk pada Tahun 2005 dengan beranggotakan 6 orang laki-laki
-A Ray (gitar), Teguh (gitar), Rival (bass), Iwan (keyboard), dan Aci (drum) Alm Tedi (perkusi)
Album Pertama tepenk yang juga kaka dari micky AFI ini di Steven and Coconutreez bertajuk tentang kehidupan sehari-hari yaitu sosial,kehidupan,cinta,dan persahabatan, "The Other Side" dengan Amunisi 11 lagu :
 
     

  1. Welcome To My Paradise
  2. Kembali
  3.  Bebas Merdeka
  4. Pesta Pora
  5. Excited
  6. Mendingan
  7. What The Fuck They Say
  8. Long Time No See
  9. Money
  10. Never Let Go
  11. Serenada 
Lanjut ke Album berikutnya "Easy Going", Album yang diluncurkan pada Tahun 2006 tepatnya selang satu tahun dari album pertama mereka yang juga masih bertemakan Sosial,Kehidupan,Cinta, dan Persahabatan namun di Album kali ini Tepenk dan Kawan-kawan sepertinya ingin memberikan kontribusi penuh terhadap para pencinta musik reggae yang dimana Tepenk slalu menyampaikan pesan dan supportnya lewat nada-nada damai yang dilantunkan Tepenk bersama teman2 di Steven and Coconutreez. di album ini ada 13 lagu dengan lagu utamanya "Tersenyum Lagi"

      
 
  1. Tersenyum Lagi
  2. Sunset
  3. Tropical Breeze
  4. Horny Horny
  5. I'm In Love
  6. Lagu Badai
  7. Cinta Damai
  8. Enggan
  9. Mati Rasa
  10. Semua Sirna
  11. Next Time
  12. Runaway
  13. Holiday.
Album yang Terakhir sebelum Tepenk berencana solo karier di Steven Jam Bersama Kawan-kawan di Steven And Coconutreez Adalah
Album yang berjudul "Good Atmosphere" Album yang dirilis pada Tahun 2008 dengan isi masih 13 lagu
Dari mulai urutan yang pertama dengan lagu yang berjudul "Burning With My Fire"


  1. Burning With My Fire
  2. Atmosphere
  3. Under the Moonshire
  4. Lagu Urban
  5. Trully Kawan
  6. Sun of Beach
  7. Selamat Jalan Kawan
  8. Gud Vibes (ft. Ipang)
  9. C'mon
  10. Gudbye Anjing
  11. BBM
  12. Hingga Kau Jenuh
  13. Lagu Santai
Biografi

Asal Jakarta, Indonesia
Genre Reggae
Tahun aktif 1 November 2004
Label Sony BMG Indonesia 



 Sekilas Tentang Alm.Teddy 
 Kabar duka dari  Steven & Coconut Treez. Pemain perkusi, Teddy berpulang Selasa, 18/12/2007 sekitar pukul 10.00 WIB karena sakit paru-paru.
Sebelumnya Teddy pernah dirawat selama satu bulan di rumah sakit akibat paru-paru yang kronis.
Saat itu sang pemain perkusi pun sempat koma namun berhasil melewati masa kritisnya.

"Waktu itu dia udah sehat. Masa kritisnya udah lewat. Teddy udah janji nggak akan merokok lagi. Dia juga bilang seperti diberi kesempatan hidup kedua dan dia mau sehat," ujar Indra, (Manajer Steven & Coconut Treez).

Menurut Indra, Teddy memang tipe orang yang jarang sekali makan. Sedangkan setiap hari hidupnya sangat bergantung pada rokok dan kopi. Namun pasca sakit, Teddy sudah terlihat segar, lebih bersih dan lumayan gemuk. Namun apa daya akhirnya Tuhan pun memanggilnya."Teddy ngaku udah berhenti merokok. Tapi aktivitas dia kencang sekali. Mungkin capek," tandas Indra.
Hingga kini Indra belum sempat bertemu dengan para personel Steven & Coconut Treez lainnya.
"Selamat Jalan Kawan" ya, siapa yang tidak tahu judul lagu ini, mungkin lagu ini tepat di tujukan dan di dedikasikan untuk Alm.Teddy dari Kawan-kawan sejalannya Di Steven And Coconut treez.

Selamat Jalan Kawan, 


Dan harus kuakui  
Aku kehilangan
ku kehilangan saat bersama
saat kita pernah berbagi rasa 

tak bisa kupungkiri
aku kehilangan 
ku kehilangan keseimbangan 
perih yang tak tertahankan 

aku tak berdaya yee... 
kau yang slalu ada harus terpisahkan...

berangkatlah dengan tenang 
bawa sebersit senyuman 
doa ku panjatkan 
selamat jalan kawan... 


Download Lagu Steven And Coconutreez Disini

Saturday, 3 November 2012

Ras Muhammad Duta Reggae Indonesia

Ras Muhammad

PERSONAL
Muhammad Egar yang merupakan anak semata wayang dari pasangan Wening dan Rivaiini ini lahir di Jakarta pada tanggal 29 Okober 1982. Nama Ras Muhamad sendiri didapatnya di Brooklyn, sewaktu mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam.

Ada cerita di balik berubahnya nama menjadi Ras Muhamad. Muhamad diambil dari awalan namanya sendiri, sedangkan nama Ras diambil dari kosa kata bahasa Jamaika yang berarti bung. Akar kata Ras berasal dari kata Rastaman atau orang yang telah memahami falsafah dan ajaran Ras Tafari. Kata Ras sendiri dalam bahasa Amharik (Ethiopia) berarti Prince, putra bangsawan.

Ayahnya seorang dokter akupuntur dan ibunya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Luar Negeri (Deplu). Pada tahun 1993, ibunya ditugaskan ke Amerika sebagai diplomat Indonesia di bidang ekonomi. Saat itu Ras baru saja tamat sekolah dasar di SD Harapan Ibu Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Selama di USA, Ras tinggal di New York bersama ibunya. Dia lalu melanjutkan sekolah di Russell Sage Junior High School dan lulus tahun 1996 kemudian masuk Forest Hills High School (setara SMA) lulus 1999. Sebelum dia lulus, pada tahun 1997 masa tugas ibunya di USA berakhir dan harus pulang ke tanah air. Namun Ras masih tinggal untuk menyelesaikan studi.

Tahun 2001, Ras menlanjutkan studinya di jurusan Liberal Arts, Borough of Manhattan Commlonity College, setara D3, untuk memperdalam dan mengasah bakat seninya. Karena keseringan berkesenian dan nongkrong di Broklyn, kuliah yang harusnya tamat dalam waktu 3 tahun, diselesaikan dalam waktu empat tahun. Tahun 2005 dia lulus dan langsung pulang ke Indonesia.

Ras mengenal Reggae di Amerika, tepatnya di Broklyn. Tahun 1999 ia mulai menggimbal rambutnya, hingga hari ini.

KARIR
Ras mengawali karir bermusiknya lewat rilisan album perdananya, DECLARATION OF TRUTHS pada tahun 2005 sewaktu masih di Broklyn. Album indie ini beredar di New York.

Ras kemudian merilis album keduanya, REGGAE AMBASSADOR pada bulan Januari 2007. Album pertama Ras yang dirilis di Indonesia ini juga direkam secara Indie. Lewat album ini, nama Ras jadi semakin dikenal di Indonesia.

Setelah itu, dia merilis album ketiganya yang bertajuk NEXT CHAPTER.

DISKOGRAFI
DECLARATION OF TRUTHS (2005)
REGGAE AMBASSADOR (2007)
NEXT CHAPTER

Den Basito


Den Basito pria kelahiran kediri 1 juni 1979 ini memiliki darah seni dan bakat yang luar biasa..memiliki segudang talenta dan berpikiran cerdas dan telah pula melahirkan karya karya yang memukau..( agak maksa) sori om bas….
Pria yang memiliki ciri unik ini adalah salah satu penggagas dari Paguyuban Reggae atau biasa dikenal PARE , yang telah menggelar beberaapa event di kota Pare , Kediri , dan sekitarnya.

Beberapa hasil karya dari om satu ini :

  1. Terlanjur
  2. Sampai Kapan ( Cah Ayu )
  3. Kabar Guide
  4. Asmara
  5. Kongkalikong
  6. Den Basito Biasa
  7. Den Basito Anak Alam
  8. Nyanyian Lirih
  9. Emak
  10. Lapendos
  11. Den Basito Liris
  12. Den Basito - Sahabat
  13. Den Basito Santai

Bob marley Dan The Wailers

Album ketiga Bob marley untuk Island records "Natty Dreads", yang dirilis pada bulan Oktober 1975, adalah yang pertama dikreditkan ke bob marley dan The Wailers, Harmoni dari Peter Tosh dan Bunny wailer digantikan dengan soulfulness dari I-trhees Rita marley,Marcia Griffiths dan Judy Mowatt pada gitar, Al anderson pada lead guitar,Tyrone Downie dan Earl "WYA" Lindo pada Keyboard dan Alvin "Seeco" Patterson bermain perkusi, ditandai dengan lirik rohani dan sosial sadar, "Natty Dreads" Album termasuk perayaan Blues-dipengaruhi meriahnya Reggae, "Lively Up Yourself". yang Bob marley gunakan untuk membuka setiap konsernya, sukacita yang Ia alami diantara teman-temannya ditengah-tengah perjuangan Trench pemuda kotanya dengan pilu disampaikan pada "No Woman No Cry", sedangkan judul lagu "Essential" memainkan perananan penting dalam memperkenalkan budaya dan filosovi Rastafari ke seluruh Dunia.

Tahun berikutnya Bob marley memulai Tour di Eropa yang sangat sukses dalam mendukung "Natty Dreads", yang termasuk dua malam di theater Lyceum London, Kinerja Lyceum ditangkap pada rillis berikutnya " Bob Marley & The Wailers Live" yang menampilkan versi melankolis "No Woman No Cry" yang mencapai puncak di inggris.

Bob marley didalam ketenaran pada tahun 1976 dengan merilis "Rastaman Vibration" Album  yang satu-satunya mencapai Top BillBoard 200, memuncak pada no.8 dengan dimasukannya "Crazy Bhaldead" yang mengutuk "brainwash education" dan memotong judul "Rastaman Vibration" disajikan pemahaman lebih jelas tentang ajaran Rastafari kepada penonton mainstream yang sekarang penuh perhatian mendengarkan Bob marley juga termasuk pada "perang" lirik yang adaptasi dari sebuah pidato yang berapi-api kepada sidang umum PBB pada tahun 1963, disampaikan khaisar Eithopia Haile Selassie I .
35 Tahun setelah rilis awal "perang" tetap menjadi lagu kebangsaan yang tidak tergoyahkan kesetaraan.semangat memberdayakan, dianut oleh orang-orang yang dimana-mana.

Sejak Tahun 1976 menarik untuk dekat Bob marley sekarang dianggap sebagai duta reggae Global
yang telah dipopulerkan internasional Rastafarian, perbedaan itu memupuk rasa kebanggaan besar diantara mereka yang memeluk pesan Bob marley, tapi pengaruh lain memperluas juga menjadi titik pertikaian bagi orang lain di jamaica,yang brutal dibagi oleh aliansi politik. Dengan maksud ketegangan yang membara menekan antara partai nasional di jamaica People's National Party (PNP) dan the Jamaica Labor Party (JLP). Bob marley menyetujui permintaan oleh kementrian Jamaica kebudayaan keberita utama (non partisan) konser gratis, Smile Jamaica,menjadi diadakan pada tanggal 5 Desember 1976 di kingston. 2 hari sebelum acara,  Bob Marley & The Wailers berlatih dirumahnya kingston house, upaya pembunuhan yang gagal dilakukan pada hidupnya. sejumlah pria bersenjata menyerang tempat tinggal Bob marley dengan peluru mereka menembaki tempat tinggal duta reggae Internasional itu, Bob marley lolos dengan luka ringan namun  Rita Marley (istrinya) terkena peluru dalam penyerangan tersebut tepat menyerempet kepalanya. Rita terpaksa menjalani operasi untuk mengangkat peluru yang menyerempet kepalanya tapi Dia keluar keesokan harinya dari Rumah sakit tersebut,
manager Bob marley (Don Taylor) ditembak sebanyak lima kali dengan luka kritis dan diterbangkan ke rumah sakit Cedars of Lebanon untuk mengangkat peluru terhadap syaraf dan tulang belakangnya.

Bob Marley Di Afrika.

Pada akhir tahun 1978 Bob Marley melakukan perjalanan pertama ke Afrika, Mengunjungi Kenya dan Eithopia, yang terakhir merupakan rumah spiritual gerakan Rastafari, selama tinggal di Eithopia, Bob marley tinggal di Shashamane sebuah pemukiman komunal terletak di 500-hektar tanah yang disumbangkan yang Mulia Kaisar Haile Selassie I kepada Rastafarian yang memilih untuk memulangkan ke Eithopia, Marley juga melakukan perjalanan ke Addis Ababa Eithopia capitol dimana ia mengunjungi situs yang signifikan terhadap kehidupan Mulia dan sejarah Kuno Eithopia.

Bob marley merilis "Survival" Album kesembilan pada musim panas 1979 dari track pembuka ini panggilan clarion untuk "Wake up and live" untuk menyimpulkan "Ambush In The Night",pernyataan definitif pada percobaan pembunuhan 1976 "Survival" adalah pekerjaan,brilian politik progresif memperjuangkan pan-African solidarity, "Survival" juga termasuk "Africa Unite" dan "Zimbabwe"yang terakhir lagu kebangsaan bagi koloni dibebaskan dari Rhodesia, Pada bulan April 1980 Bob Marley & The Wailers melakukan upacara resmi kemerdekaan Zimbabwe atas undangan Negara yang baru saja terpilih sebagai Presiden Robert Mugabe. ini menegaskan dalam menghormati pentingnya Bob Marley & The Wailers di seluruh African Diaspora dan signifikan reggae sebagai kekuatan pemersatu dan pembebasan.

Album terakhir yang akan dirilis dalam hidup Bob marley "Uprising", Membantu untuk memenuhi tujuan karir lain, Bob marley terbuka dirayu oleh seorang pendengar African-American sepanjang karirnya dan ia membuat koneksi besar bagi demografi bahwa dengan "Could You Be Loved", yang dimasukan perpaduan reggae-disco danceable.
"Uprising" juga termasuk Ode kontemplatif dengan keyakinan Rastafarian Bob marley "Zion Train" and "Forever Loving Jah" dan "Redemption Song" sangat bergerak deklarasi, kebenaran dan renungan mendalam pribadi Angelique Kidjo, Clash's Joe Strummer, Sinead O'Connor dan Rihanna hanyalah Empat dari puluhan seniman yang telah direkam versi "Redemption Song".

Bob Marley & The Wailers memulai  tour besar di Eropa pada musim semi 1980, memecahkan rekor kehadiran di beberapa negara,di Milan,di Italia, mereka tampil dengan 100.000 orang penonton terbesar sepanjang karir mereka,

Bob Marley Live Forever

Bob Marley & The Wailers Live Forever The Pittsburgh, acara berlangsung hanya dua hari setelah Marley tahu bahwa kanker yang telah berakar di ibu jari kakinya sejak tahun 1977, menyusul cedera sepak bola, telah menjalar dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Marley berjuang untuk penyakit yang dideritanya selama 8 bulan, bahkan Ia harus pergi ke Jerman untuk menjalani pengobatan di Klinik Dr.Josef Issels pada awal Mei 1981. Bob marley meninggalkan Jerman untuk kembali ke Jamaica tetapi Ia tidak menyelesaikan perjalanan itu. Ia akhirnya menyerah pada kanker yang dideritanya di sebuah rumah sakit Miami pada Mei 1981.

Biografi Bob marley tidak berakhir disana, Pada bulan April 1981 Bob marley di anugerahi kehormatan ketiga tertinggi di jamaica "the Order of Merit" atas kontribusinya yang luar biasa terhadap budaya negaranya, sepuluh hari setelah kematian Marley ia diberi pemakaman kenegaraan sebagai Robert Nesta Marley OM terhormat oleh pemerintah Jamaica, Dihadiri oleh perdana menteri Edward Seaga, Ratusan ribu penonton berbaris di jalan-jalan untuk mengamati prosesi kendaraan yang berangkat dari Kingston ke tempat peristirahatan terakhir Bob marley sebuah makam ditempat kelahirannya di Nine Miles.
Bagaimanapun Bob Marley & The Wailers adalah legenda hidup, 30 tahun setelah kematian Marley musiknya tetap sama pentingnya tentang kehidupan dan perwujudan apa yang di perjuangkan.




oleh Mas Sohib Reggaeman
DMCA.com