alt/text gambar
Showing posts with label Reggae. Show all posts
Showing posts with label Reggae. Show all posts

Wednesday, 30 October 2013

Mengenal Reggae

Di Indonesia, Reggae hampir selalu diidentikkan dengan Rasta. Padahal, Reggae dan Rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda,. Reggae jelas kita kenal sebagai nama genre musik, sedangkan Rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life,
di balik ingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa Reggae, ada stigma yang melekat pada para penggemar musik tersebut dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi Rasta itu sendiri. ”Di sini, penggemar musik reggae, atau sering di identikkan salah kaprah disebut rastafarian, dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan,
“ Padahal, filosofi Rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib, dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut Rasta yang sesungguhnya menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok "

tidak semua penggemar Reggae adalah penganut Rasta, dan begitu juga sebaliknya, tidak semua penganut Rasta harus menyenangi lagu Reggae, Reggae diidentikkan dengan Rasta karena Bob Marley pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah seorang penganut Rasta.

salah satu bukti bahwa Komunitas Reggae di Indonesia sebagian besar belum memahami ajaran Rastafari adalah tidak adanya pemahaman terhadap hal-hal mendasar dari filosofi itu. “Misalnya waktu saya tanya mereka tentang Marcus Garvey dan Haile Selassie, mereka tidak tahu. Padahal mereka adalah dua tokoh utama dalam ajaran rastafari,”

Pemusik Tony Q Rastafara pun mengakui, meski ia menggunakan embel-embel nama Rastafara, tetapi dia bukan seorang penganut Rasta. Tony q mencoba memahami ajaran Rastafari yang menurut dia bisa diperas menjadi satu hakikat filosofi, yakni cinta damai.

Namun, meski tidak memahami dan menjalankan seluruh filosofi Rastafari, biasanya para penggemar dan pelaku Reggae di Indonesia berkemungkinan besar mendapatkan sesuatu di balik musik yang mereka cintai itu. seperti, dimulai dari menyenangi musik Reggae (dan lirik lagu-lagunya), para penggemar itu kemudian mulai tertarik mempelajari filosofi dan ajaran yang ada di baliknya.

juga saya akui musik Reggae semakin menguatkan kebencian terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang,


"Reggae tidak akan pernah salah kalau saja Reggaeman sejati yang memahaminya"


#backsound @10 Ft Ganja Plant - Your voice :D

Wednesday, 16 October 2013

Ras Muhamad Talks About Reggae


Monday, 7 October 2013

Buku NEGERI PELANGI - Ras Muhamad

“Sepanjang pengamatan saya, ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia seorang penyanyi menulis bukunya sendiri, dan diluncurkan dalam konferensi pers di depan komunitasnya,” ― Bens Leo.
 
Catatan Perjalanan Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia
 

Setelah merilis beberapa album, penyanyi yang sekaligus icon reggae Ras Muhamad kini meluncurkan sebuah buku yang berjudul ‘Negeri Pelangi’. Buku ini merupakan catatan Duta Reggae IndonesiaRas Muhamadke Ethiopia, negera yang terletak di belahan benua Afrika yang merupakan cikal bakal lahirnya musik reggae.
Di mata orang kebanyakan atau bahkan oleh komunitas reggae di Indonesia sendiri menganggap bahwa reggae hanya sebatas musik pantai dengan panorama pohon kelapa dan musik yang tak terlalu memikirkan masa depan. Begitu pula anggapan yang melekat kepada penggemar musik bergenre reggae yang acap kali dikonotasikan dengan narkoba dan huru-hara. Padahal jika dicerna isi/lirik lagu yang dibawakan oleh para pendahalu musisi reggae, pergerakan reggae ini sarat bercerita tentang kebangsaan, nasionalisme, keberagaman, pluralisme, dan toleransi.
Melalui karya perdananya dalam bentuk tulisan ―Negeri Pelangi―, Ras Muhamad menjelaskan dan meluruskan anggapan-anggapan tersebut secara detail. Buku yang terilhami dari sebuah perjalanannya ke negera yang memiliki ibu kota Addis Ababa ini juga mengupas benang merah ikatan filosofis dan hubungan sejarah antara Etiopia di Afrika dengan Jamaika di Karibia. Begitu juga dengan semangat Asia-Afrika yang merupakan napas Dasa Sila Bandung yang digagas oleh Bung Karno.
Lebih lanjut, buku ‘Negeri Pelangi’ ini mengkaji lebih dalam sosok-sosok penting seperti Bob Marley, Marcus Garvey, Kaisar Haile Selassie dan Pergerakan Rastafari, negara Jamaika, sejarah, reggae dan banyak lagi kandungan penting yang harus diketahui oleh para pecinta reggae, seperti kandungan yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Bob Marley.
Bisa dikatakan buku ini adalah sebuah dokumentasi “perjalanan spiritual” Ras Muhamad sebagai Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia. Sebuah negara di belahan benua Afrika yang tidak banyak orang mengenalnya secara luas. Bahkan masih melekat dalam benak kita, bila mendengar Etiopia maka yang terbayang adalah kesedihan, kelaparan, kebodohan, penyakit, dan kemiskinan. Persepsi tersebut masih hidup hingga sekarang karena pada masa ‘Perang Dingin’ lalu dan Ethiopia ketika itu dikuasai rezim komunis memang mengalami hal negatif seperti itu. Tapi kini setelah pemerintahan demokratis berkuasa, negeri ini mengalami kemajuan yang luar biasa berkat sikap ‘visoner’ yang dimiliki almarhum Perdana Menteri Meles Zenawi yang berkuasa sejak tahun 1994 hingga wafatnya tanggal 21 Agustus 2012.
 
13619900211523508921 
Buku setebal 204 halaman ini disertai dengan foto-foto dokumentasi selama perjalanan Ras Muhamad menyusuri tempat-tempat bersejarah serta momen-momen penting selama di Ethiopia. Kemasan menarik lainnya adalah CD lagu-lagu pilihan terbaik pergerakan Rastafari oleh Asia-Afrika soundsystem yang selaras dengan tema buku ini. Tentunya, terdapat pula single terbaru bertajuk “Negeri Pelangi” berkolaborasi dengan musisi reggae legendaris Indonesia, Toni Q.
1362015606165767219 
Ras Muhammad secara resmi meluncurkan buku ‘Negeri Pelangi’ pada 17 Februari 2013 di Jakarta dihadiri oleh berbagai tamu undangan, pengamat musik, penerbit, para musisi reggae yang sekaligus mendukung acara launching party, awak media, dan para fans –pecinta reggae.
13619870361876812396

Kisah Klasik Tentang Keberadaan Musik Reggae



Reggae? Pernah gak sih kalian mempertanyakan apa sih sebenarnya arti dari kata “reggae” itu sendiri. Begini guys, menurut buku yang gak sengaja gw baca, bahwa reggae itu berasal dari kata “ragged”, kata tersebut mempunyai arti dari suatu gerakan yang menghentakkan badan layaknya penggemar reggae sedang menikmati alunan musik tersebut. Tahun 1968 Musik Reggae ini terlahir, setelah surutnya penikmat musik Ska, RockSteady, dan DUB disaat penduduk Jamaika mengalami tekanan social ekonomi.


Music Reggae mempunyai tempo yang lebih lambat dibandingkan dengan musik Ska dan RockSteady, dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol, memberikan nuansa irama music reggae ini, terdengar mengasikkan. Iramanya yang dinamis membuat pendengarnya bergoyang santai, sehingga mereka ikut menghayati ditiap lirik-liriknya. Kehadiran musik reggae ini, sebagai bentuk penyampaian pesan yang dituangkan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan social politik humanistik maupun universal. Jadi dapat dikatakan bahwa musik Reggae juga merupakan sebuah musik bagi para pemberontak.
Perkembangan musik yang satu ini memang sangat pesat. Musik Reggae pun akhirnya mengalami perkembangan menjadi Roots Reggae dan Dancehall Reggae yang terjadi pada akhir tahun 1970. Nama Roots Reggae sendiri diberikan oleh para Rastafarian, yang berarti sebuah musik spiritual yang diperuntukan bagi “Jah” yang berarti tuhan bagi para Rastafarian.
Para pecinta reggae identik dengan atribut yang mewakili style kaum Rastafarian diantaranya, rambut gimbal, bendera dengan kombinasi warna merah, kuning, dan hijau. Ada kebanyakan orang yang merasa kurang nyaman melihat kaum yang berambut gimbal dengan segala atribut yang mempunyai kombinasi warna merah, kuning, dan hijau, namun hal itu merupakan ungkapan bahwa mereka menggemari aliran music reggae.
Dilihat dari karateristiknya, pernah ada gak di benak kalian muncul sebuah pertanyaan, kenapa reggae identik dengan warna merah-kuning-hijau???  Ketiga warna yang identik itu adalah warna merah, kuning/emas, dan hijau, yang melambangkan warna bendera dari Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan kesetiaan kaumnya terhadap negaranya sendiri atau sebagai ungkapan rasa nasionalisme tinggi terhadap negaranya. Warna  Merah melambangkan darah para martir, kuning/emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang ditawarkan Afrika, sementara hijau melambangkan tetumbuhan Afrika . Menurut sejumlah pakar Ethiopia menyatakan, warna merah, kuning/emas, dan hijau dilambangkan sebagai sabuk Perawan Maria, yaitu pelangi. Sedangkan dari 7 unsur warna pelangi, diantaranya terdapat tiga warna yang sangat identik dengan kaum rastafari.
Sebagian orang mempunyai pandangan negative tentang kebiasaan para penikmat reggae. Oleh karena itu, aliran reggae ini, pernah menjadi buah bibir sebagian kecil masyarakat di dunia, mereka menganggap music ini sangat berbahaya bila ditinjau dari segi lirik lagu mapun lifestyle yang melekat pada penggemarnya. Penggunaan cannabis alias ganja oleh para musisi Reggae banyak diikuti oleh para pendengar dari musik ini, karena efek yang ditimbulkan oleh ganja memang sangat cocok dengan irama musik Reggae. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja merupakan salah satu ritual yang wajib dilakukan oleh para Rastafarian.
Namun bagi sebagian besar orang, reggae yang seutuhnya dapat memberikan pengaruh yang positif. Selain lirik lagu reggae berisi pesan perdamaian, juga memberikan dorongan untuk membuat hidup lebih baik. “Your life is worth much more than gold” itulah potongan lirik dari lagu Jammin’ yang mengartikan bahwa hidup kamu lebih bersinar dan mahal daripada emas. Lirik itulah yang selalu membangkitkan semangat untuk orang-orang yang tertindas. Pesan yang selalu Bob marley nyanyikan dalam Redemption Song dan yang selalu membekas dihati para penggemar Bob Marley adalah “Emancipate Your Selves From Mental Slavery” (emansipasikan dirimu dari mental budak).
Awal mula dari semua ini berasal dari sang legendaris Bob Marley yang terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945, di sebuah desa di Saint Anna, Jamaica, Bob Marley merupakan Sang legenda Reggae yang tidak akan ada habisnya dibicarakan. Ia merupakan salah satu musisi yang sangat mendunia. Selain berprofesi sebagai penyanyi, Bob Marley juga sangat piawai dalam memainkan gitar dan menjadi seorang penulis lagu yang handal.
Pada tahun 1963 Bob Marley bersama Bunny Livingston, Peter McIntosh, Junior Braithwaite, Beverly Kelso dan Cherry Smith membuat sebuah band yang bernama The Teenagers. Nama The Teenagers sendiri tidak bertahan lama dan kemudian berubah menjadi The Wailing Rudeboys yang kemudian disempurnakan menjadi The Wailers. Perjalanan Marley sendiri dilaluinya layaknya musisi, hingga kesuksesannya menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi penggemarnya.
Namun Marley tidak lama merasakan kejayaannya tersebut. Pada bulan Juli 1977 Marley divonis menderita penyakit kanker, dan penyakit tersebut pun mulai menjalar ke beberapa bagian vital tubuhnya seperti otak dan hati yang membuatnya harus banyak beristirahat. Pada tanggal 11 Mei 1981 sang legenda Reggae ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan tiga belas anak. Walaupun telah meninggal, nama Bob Marley seakan tidak pernah lenyap dari dunia musik, khususnya musik Reggae. Bahkan musik Reggae pun semakin diterima dunia. Mungkin ini lah salah satu cara yang harus dilakukan oleh sang dewa Reggae untuk tetap menghidupkan musik Reggae.

Music Reggae bukanlah music yang dimainkan oleh orang-orang yang memakai ganja, tetapi music reggae adalah music tentang jiwa pemberontak yang menginginkan kebebasan, bukanlah kebebasan tanpa batas maupun penindasan.

NB : “Martir” artinya, Seseorang yang harus mampu menjaga jarak dengan zaman. Ikut arus tapi tidak terbawa arus. Cerdas dan tangguh dalam menyikapi masalah dan mampu mempertanggungjawabkan prinsip hidup Katolik dalam masyarakat.

Saturday, 5 October 2013

Profile Tony Q Rastafara II

Anak kampung yang berontak dari pabrik kaleng.
Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagu-lagunya direkam Putumayo label tersohor dunia untuk world music. Sohor di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa.
Inilah reggaeman kita yang selalu bersahaja
SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, dibahasnya bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!
Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album barunya, Anak Kampung, yang akan dirilis dalam waktu dekat ini.
Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.
Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Setahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.
Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.
Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan mas tony ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga mas tony dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma mas tony dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!
Selama bersama mereka, mas tony nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.
Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. mereka janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena mas tony pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio ma stony coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi ma stony harus memilih satu di antaranya.
Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.
Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
mas tony nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, dia punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Dia ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band
Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.
Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, mas tony terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal dia banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!
Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, dia mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!
Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.
Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.
Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.
Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?
Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…
Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore(music-music yg aliranya keras). Dulu dia Rambutnya panjang belum digimbal kaya sekarang.
Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, tony Q dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke mas tony, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, mas tony kenalin ke Steven. Dan akhirnya Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, mas tony Q senang sekali melihat Steven coconuttrezz yang sekarang dah sangat berkembang
boleh dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan enam album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), anak kampong (2007)
Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.
Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.
Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” katanya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, GangstaRasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering dulu waktu peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.
Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Dan kabarnya Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.
April tahun kemarin, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”
Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.
Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gigs reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.
PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.
zaman dulu semua nama band yang didirikannya hampir semuanya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar, “Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.
Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai.


Tony Q Rastafara – Bakso Donk
Tony Q Rastafara – AsapPutih
Tony Q Rastafara – Cahayamu
Tony Q Rastafara – Dont Worry (Feat Steven and Coconuttreez)
Tony Q Rastafara – Gadis Andalas
Tony Q Rastafara – Get Up Stand Up
Tony Q Rastafara – Hanya Untukmu
Tony Q Rastafara – Ngajogjakarta
Tony Q Rastafara – Ngajogjakarta (Original Version)
Tony Q Rastafara – Om Funky
Tony Q Rastafara – Paris Van Java
Tony Q Rastafara – Pesta Pantai
Tony Q Rastafara – Rambut Gimbal
Tony Q Rastafara – Sapu Tangan Putih
Tony Q Rastafara – Waiting Tresno
Tony Q Rastafara – Oh…Ya
Tony Q Rastafara – Misteri Kehidupan
Tony Q Rastafara – Aku Masih Menunggu
Tony Q Rastafara – Kembalilah Kasih
Tony Q & Rastafara – Aku Sayang Kamu
Tony Q Rastafara – Preman Buronan
Tony Q Rastafara – Lively Up Your self
Tony Q Rastafara – Semua Untuk Mu ( Versi Live )
Tony Q & Rastafara feat Krisdayanti – Cintaku
Tony Q Rastafara – This Song Of Labour
Tony Q Rastafara – Don’t Worry Uyee..(Original Vers)
Tony Q & Rastafara – Goyang Kamu Seksi ( versi )
Tony_Q_-_Rastafara_-_Peace_With_Love
Tony Q & Rastafara – Ice cream
Tony Q & Rastafara – Yang Terulang
Tony Q & Rastafara – untukmu kasih




Tony Q Rastafara – Woman
Tony Q Rastafara -This Is My Way
Tony Q Rastafara – Tertanam
Tony Q Rastafara – Reggae Dot Com
Tony Q Rastafara – Ojolali
Tony Q Rastafara – Mencium Bulan
Tony Q Rastafara – Lukisan Cinta (Accoustic Version)
Tony Q Rastafara – Liburan
Tony Q Rastafara – Ketika
Tony Q Rastafara – Anak Kampung
Tony Q Rastafara – Ada Gula Ada Semut
 

Tuesday, 10 September 2013

My Boy Lollypop Lagu Ska pertama yang Mendunia

" My Boy Lollipop " ( awalnya ditulis sebagai " My Girl Lollypop " ) adalah sebuah lagu yang ditulis pada pertengahan 1950-an oleh Robert Spencer dari kelompok doo - wop The Cadillac , dan biasanya dikontrakan ke Spencer , Morris Levy , dan Johnny Roberts . Ini pertama kali tercatat di New York pada tahun 1956 oleh Barbie Gaye . Sebuah versi cover , tercatat delapan tahun kemudian oleh remaja Jamaika Millie Small , dengan irama yang sangat mirip , menjadi salah satu atas penjualan lagu-lagu ska sepanjang masa .

Perusahaan rekaman eksekutif Morris Levy setuju untuk membeli lagu dari Spencer . Meski tidak terlibat dalam penulisan lagu , Levy dan Johnny Roberts mencatatkan diri sebagai penulis lagu itu . Dalam upaya untuk menghindari berbagi royalti dengan Spencer , Levy dihapus Spencer dari kontrak dengan tulisan asli , kemudian mengklaim bahwa Robert Spencer adalah nama samarannya . Lagu yang menarik perhatian salah satu mitra Levy , dugaan mafia dan mogul musik , Gaetano Vastola , alias " Corky . " Vastola baru-baru ini menemukan penyanyi 14 tahun Barbie Gaye setelah mendengar Ia menyanyi di sudut jalan di Coney Island Brooklyn . Vastola sangat terkesan bahwa ia segera mengajaknya untuk langsung bertemu dengan DJ Alan Freed . Gaye menyanyikan beberapa lagu untuk mereka dan Freed terkesan . Vastola menjadi manajer Barbie Gaye dan dalam beberapa hari , ia memperoleh lembaran musik dan lirik untuk " My Girl Lollypop " dari Levy dan memberikannya kepada Gaye , tanpa petunjuk khusus kecuali harus siap untuk melakukan hal itu pada minggu berikutnya. Gaye mengubah judul untuk " My Boy Lollypop . " Dia menambahkan lirik dan dihapus ( seperti , " uh oh lollipop " bukan " my boy lollipop " di beberapa kasus ) , diperpendek dan diperpanjang catatan , diulang lirik tertentu ( " I love ya , aku cinta ya , aku cinta ya begitu " ) dan menambahkan semua suara non - liris , ( ucapan ) seperti " whoas " dan " hibbity - ops " .

Lagu ini dirilis sebagai single oleh Darl Rekor pada tahun 1956 -an . Lagu Itu sangat sering diputar oleh DJ Alan Freed New York radio, dan atas permintaan pendengar akhirnya membuat lagu ini ada pada Top 25 di tangga lagu New York Radio.


Saturday, 7 September 2013

Reggae Sebagai Ajang Popularitas dan Trend Masa kini














Euporia masyarakat pecinta Reggae di Tanah Air makin besar, bisa dibilang menyebar ke seluruh nusantara secara cepat, tapi di sisi lain fans atau penggemar Reggae di Indonesia pun tidak terlepas dari hal-hal negative pada pertumbuhannya,

*kenapa...?

mungkin terlalu naif kalo saya sendiri bilang mereka masih labil atau ikut2an, pada dasarnya semua Reggaeman ( panggilan bagi pecinta Reggae ) bermula dari ikut-ikutan hingga beradaptasi pada pola pikir mereka masing-masing, seperti rasa keingintahuan mereka tentang Reggae,Merah Emas Hijau, Ethiopia, Bob Marley, dan Rasta sendiri.
tapi sayangnya mereka dari kebanyakan tidak tumbuh secara dewasa seiring musik Reggae yang semakin besar di Indonesia, mungkin begitulah hal yang terkait pada musik Mainstreem ini.

banyak hal yang baru  kalo saja kita mau menggali pengetahuan tentang Reggae, salah satunya Nasionalisme yang bisa dikaitkan antara Reggae, Eithopia, dan Bangsa ini ( Indonesia ).

mengapa...?

Ingat pada Konferensi Asia-Afrika ( KTT ) yang di gagas oleh Bung Karno yang diselenggarakan di Gedung Merdeka Bandung pada 18 April-24 April 1955, Hal itu menjadi bukti sejarah antara Eithopia dan Indonesia, Antara Nasionalisme dan Negeri lahirnya Musik Reggae,
seharusnya kita terus menggali apa saja yang terdapat pada keduanya seperti yang sering kita dengar pada lirik-lirik lagu Bob marley.

kalau saya bandingkan dengan Pelaku Musik Reggae di Indonesia masih sangat jauh dengan kata-kata survive, Rebel, dan hadirnya sosok nyabhingi di lirik2 mereka,
coba lihat saja...?
ada apa dengan musisi-musisi Reggae Indonesia sampai bisa mengait2kan Cepu di lirik lagunya (maaf gk suka sensor)
atau tentang cinta,cinta,dan cinta...

kadang saya ingin melihat mereka membawa Fans2 Reggae di Indonesia Tumbuh Secara Dewasa seiring lirik2 yang juga mendewasakan, entah sampai kapan masa-masa musik Reggae seperti ini berakhir tapi satu hal mungkin yang akan terjadi didepan nanti, Musik Reggae di Indonesia akan Down secara perlahan seiring munculnya Trend baru di kalangan musik yang ada di Indonesia.

Sunday, 25 August 2013

Reggae Dancehall (( Revolusi Roots Reggae ))


Dancehall adalah salah satu genre musik pop Jamaika. Sebagai versi reggae yang kurang kental, dancehall juga mengangkat topik-topik seperti politik dan agama, namun tidak begitu secara langsung seperti halnya irama roots yang diasosiasikan dengan Gerakan Rastafari dan telah mendominasi sebagian besar dekade 1970-an. Pada pertengahan 1980-an, alat musik makin menjadi lumrah hingga banyak mengubah warna musik reggae, sementara dancehall digital (atau disebut "ragga") makin ditandai oleh ciri khas berupa ritme yang lebih cepat. Pada pertengahan 1990-an sejalan dengan kepopuleran artis-artis dancehall BoboShanti seperti Sizzla dan Capleton berkembanglah hubungan yang sangat erat antara dancehall dan Rastafari.
Musik dancehall telah menjadi sasaran kritik oleh sejumlah tokoh dan organisasi internasional karena lirik lagu yang dipenuhi kekerasan dan kadang-kadang antihomoseksual. Meskipun demikian, tema-tema lirik sebetulnya telah lebih bervariasi dan tidak hanya terbatas pada slackness dan kekerasan.
Genre musik ini dijuluki dancehall karena berasal dari rekaman musik pop Jamaika yang dimainkan di aula-aula dansa (bahasa Inggris: dance hall) oleh grup musik lokal yang disebut sound system.
TEMPO Networks termasuk di antara stasiun televisi yang sering menyiarkan musik dancehall.

Sejarah
Perubahan sosial dan politik di Jamaika pada akhir 1970-an tercermin pada pergeseran selera yang makin menjauh dari roots reggae yang lebih berorientasi internasional ke arah gaya musik yang lebih ditujukan untuk konsumsi lokal, serta selaras dengan musik yang dialami orang Jamaika ketika mendengar grup sound system tampil dalam pertunjukan live. Pemerintah People's National Party (PNP) pimpinan Michael Manley yang sosialis telah digantikan oleh Edward Seaga dari Jamaica Labour Party (JLP) yang berhaluan sayap kanan. Tema-tema mengenai ketimpangan sosial, repatriasi, dan gerakan Rastafari digantikan dengan lirik mengenai tari, kekerasan, dan seksualitas.
Secara musikal, ritme-ritme usang dari akhir 1960-an didaur ulang dengan menyebut Sugar Minott sebagai perintis tren setelah Minott sewaktu bekerja sebagai musisi studio menyanyikan lirik baru untuk ritme-ritme lagu Studio One di waktu luang antara dua sesi rekaman. Sekitar waktu yang bersamaan, produser Don Mais sedang mengerjakan ritme-ritme lama di Channel One Studios dibantu oleh band Roots Radics. Roots Radics nantinya berkolaborasi dengan Henry "Junjo" Lawes untuk menciptakan rekaman-rekaman awal musik dancehall yang penting, termasuk lagu-lagu yang dibawakan bintang-bintang reggae utama seperti Barrington Levy, Frankie Paul, dan Junior Reid. Penyanyi lain yang muncul sebagai bintang besar pada masa-masa awal dancehall termasuk di antaranya Don Carlos, Al Campbell, dan Triston Palmer, penyanyi yang sudah mapan seperti Gregory Isaacs dan Bunny Wailer berhasil ikut beradaptasi.

Grup sound system seperti Killimanjaro, Black Scorpio, Gemini Disco, Virgo Hi-Fi, Volcano Hi-Power, dan Aces International segera mengikuti warna musik yang baru, dan menghadirkan gelombang baru para deejay. Artis toaster yang lebih tua digantikan oleh bintang-bintang baru seperti Captain Sinbad, Ranking Joe, Clint Eastwood, Lone Ranger, Josey Wales, Charlie Chaplin, General Echo, dan Yellowman. Perubahan tersebut tercermin dalam album A Whole New Generation of DJs yang diproduksi oleh Junjo Lawes pada tahun 1981. Meskipun demikian, sebagian artis mengikuti U-Roy untuk mencari inspirasi. Rekaman-rekaman yang dibuat para deejay untuk pertama kalinya dalam sejarah menjadi lebih penting daripada rekaman yang menampilkan para penyanyi. Tren baru lainnya adalah album-album yang menampilkan sound clash, yakni album berisi lagu-lagu dari rival deejay yang saling bersaing atau grup-grup sound system yang berlomba satu lawan satu untuk memenangi apresiasi para pendengar dalam suatu pertunjukan live. Kaset-kaset sound clash keluaran underground sering mendokumentasikan kekerasan yang timbul akibat persaingan tersebut.
Dua bintang deejay terbesar dari era awal dancehall adalah Yellowman dan Eek-a-Mouse, keduanya lebih memilih humor daripada kekerasan. Yellowman menjadi deejay Jamaika pertama yang dikontrak oleh sebuah label rekaman Amerika Serikat, dan untuk sementara waktu di Jamaika dapat menikmati tingkat popularitas yang dapat menyaingi masa kejayaan Bob Marley.Para deejay wanita juga mulai bermunculan pada awal dekade 1980-an, termasuk di antaranya: Sister Charmaine, Lady G, Lady Junie, Junie Ranks, Lady Saw, Sister Nancy, dan Shelly Thunder.
Dancehall menghadirkan generasi baru para produser seperti Junjo Lawes, Linval Thompson, Gussie Clarke, dan Jah Thomas yang mengambil alih peran para produser yang telah mendominasi di era tahun 1970-an.
Dunia musik reggae dancehall dikejutkan oleh lagu hit tahun 1985 dari King Jammy, "(Under Me) Sleng Teng" yang dibawakan oleh Wayne Smith dengan memakai ritme yang sepenuhnya digital. Lagu "(Under Me) Sleng Teng" dari Wayne Smith sering disebut sebagai lagu reggae pertama yang memakai ritme dari kibor Casio MT-40. Namun klaim tersebut tidak sepenuhnya tepat karena sebelumnya sudah ada contoh-contoh lagu dengan ritme digital, misalnya singel Horace Ferguson berjudul "Sensi Addict" (Ujama) yang diproduseri oleh Prince Jazzbo pada tahun 1984.[rujukan?] Ritme "Sleng Teng" nantinya dipakai oleh artis-artis lain untuk lebih dari 200 rekaman berikutnya. Lagu-lagu dancehall yang menonjolkan dendang sang deejay dengan pengiring berupa musik synthesizer telah beranjak jauh dari konsepsi hiburan musik pop Jamaika.
Penyair dub Mutabaruka pernah berkata, "Kalau reggae 1970-an [berwarna] merah, hijau, dan emas, maka pada dekade berikutnya adalah rantai emas." Dancehall sudah jauh tercabut dari akar dan budaya reggae yang lembut, dan bahkan sudah terjadi perdebatan di kalangan penggemar sejati mengenai tempat genre musik ini di dalam musik reggae.
Perubahan tersebut menghadirkan generasi baru para artis, di antaranya: Buccaneer, Capleton, dan Shabba Ranks yang kemudian terkenal sebagai bintang ragga. Sejumlah produser baru juga menjadi terkenal, misalnya: Philip "Fatis" Burrell, Dave "Rude Boy" Kelly, George Phang, Hugh "Redman" James, Donovan Germain, Bobby Digital, Wycliffe "Steely" Johnson and Cleveland "Clevie" Brown (alias Steely & Clevie). Mereka bangkit untuk menantang posisi Sly & Robbie. Para deejays makin memusatkan perhatian pada kekerasan dengan tokoh-tokoh utamanya seperti Bounty Killer, Mad Cobra, Ninjaman, dan Buju Banton.
Sebagai pelengkap suara deejay yang kasar berkembang pula gaya vokal "sweet sing" yang berkembang dari roots reggae dan R&B, serta ditandai oleh falsetto dan intonasi yang hampir feminin. Pinchers, Cocoa Tea, Sanchez, Admiral Tibet, Frankie Paul, Half Pint, Conroy Smith, Courtney Melody, Carl Meeks, dan Barrington Levy termasuk di antara para artis yang mencobanya.
Lagu-lagu yang dirilis pada awal 1990-an seperti "No, No, No" dari Dawn Penn, "Mr. Loverman" dari Shabba Ranks, "Worker Man" dari Patra, dan "Murder She Wrote" dari Chaka Demus and Pliers berhasil menjadi hit besar di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Variasi lain dari dancehall juga sukses di luar Jamaika dari pertengahan hingga akhir 1990-an. Tanya Stephens mencuat sebagai artis wanita berpengaruh pada akhir 1990-an dengan lagu hit "Yuh Nuh Ready Fi Dis Yet".
Pada awal dekade 2000-an, Elephant Man and Sean Paul berhasil mencapai sukses di Amerika Serikat, dan menghasilkan sejumlah lagu hit Top 10 Billboard, termasuk "Gimme the Light", "We Be Burnin'", "Give It Up To Me", dan "Break It Off" (duet bersama Rihanna). Sean Paul juga telah memiliki beberapa singel nomor satu, di antara: "Get Busy", "Temperature", dan "Baby Boy" (duet bersama Beyoncé).
VP Records mendominasi pasar musik dancehall dengan artis-artis seperti Sean Paul, Elephant Man, and Buju Banton. VP sering bekerja sama dengan label rekaman mayor seperti Atlantic dan Island dalam usahanya memperluas distribusi, terutama di pasar Amerika Serikat.

Tuesday, 30 July 2013

Event Reggae 2013 Indonesian and Mananegara

Reggae word



Tickets for the 29th annual Reggae On The River are now on sale!
Making a triumphant return to the festival’s original French’s Camp venue, located just north of the Humboldt County line near Piercy, CA on August 1-4, 2013, reggae fans worldwide are overjoyed at the news of the festival’s homecoming and tickets for this highly anticipated event are expected to go fast.

The main 3-day festival will take place Friday through Sunday, August 2-4, and a limited number of early arrival tickets will allow access to the grounds and an extra evening of DJs and special guests on Thursday, August 1. A total of 6000 tickets will be made available to the public for the 2013 event, with only 2500 of these being early arrival tickets, so don’t delay in making your plans.

Thanks to recent customer feedback, event tickets will be now be inclusive of camping and are priced at:

Very few remaining...
$250 - 4-day early arrival ticket (includes camping on site). Allows access to festival grounds at 8am on Thursday, August 1, with an extra evening of DJs and special guests.

$190 - 3-day main event ticket (includes camping on site). Allows access to the festival grounds at 8am on Friday, August 2.
Got an RV? There will be limited RV space available for $250 - advance registration is required.

Ticket/ RV passes are sold out!


2. "Uprising Reggae Festival 2013".


BUSY SIGNAL (JAM) 

BURAKA SOM SISTEMA *live* (P) 

PROTOJE & THE INDIGGNATION (JAM) 

DUB INCORPORATION (FR)

MELLOW MOOD (IT) 

MACKA B & ROOTS RAGGA BAND(UK)

MAD PROFESSOR (UK) 

CHANNEL ONE SOUND SYSTEM (UK)

EARL GATESHEAD - TROJAN SOUND SYSTEM (UK)

MUNGO'S HI FI SOUNDSYSTEM (UK)

DREADSQUAD & KASIA MALENDA (PL)

BLACKOUT JA (JAM)

MEDIAL BANANA (SK)

RANDY VALENTINE (JAM) 

STRAIGHT SOUND (CH) 
More Artistes to be announced


3. 


Action Entertainment in association with RJR Communications Group will be hosting the Premiere Gospel Beach Fun Day, and Concert. 
This family oriented event is set to be a crowd pleaser with some of the best gospel DJs namely: DJ Marlon Young (Mello FM), DJ Kevin Lewis (Megajamz), DJ Sticko (Newstalk 93FM) and DJ Marshy Redz, providing high energy gospel music coupled with LIVE performances by: Ryan Mark, Omari, Jason Mighty, Jai, Kerron Ennis, Kevin Lewis, La Twain, Kimola Brown and K Anthony just to name a few. Other acts are lined up to be revealed at a later date to make this event the ‘Ultimate’ place to be on Emancipation Day, August 1.
This event promises to be fun filled with rides, interesting booths, video games arcades, give-a-ways, family oriented competitions and the ultimate gospel concert. In addition to this, the organizers of GOSPLASH will be keen on enforcing a strict ‘Rated F’ policy for Family, Friends, Fun, Food and Fellowship, under the rules: NO Alcohol, NO Smoking, NO weapons and NO drugs.

Reggae Indonesia

Gangstaman! Gimana puasanya? Lancar? Baguuss... Gimana kalau kita buka puasa bersama bareng sama kawan-kawan Gangstaman & kami semua? Seru kali ya? 
Kalau gitu, kami undang Gangstaman untuk dateng ke bukber Gangstaman-Gangstarasta di kantor Offbeat Music Indonesia, Kompleks Ruko Caman Raya Blok 1 No. 12A, Jatibening, Bekasi (sebrang pom bensin Total, Kalimalang), hari Sabtu, 3 Agustus '13, pukul 16.00 - 18.00.
Kami akan sediakan free tajil dan kami akan tampil akustikan untuk menghibur Gangstaman. 
Mari kita pererat tali silaturahmi di antara kita. 
Informasi lebih lanjut, hubungi Arief 081287387337
@official band gangstarasta


Gaya Hidup Rastafarian Sebagai Bentuk Eksistensi Subkultur Reggae


pada masa remaja bentuk aktualisasi diri dianggap sangatlah penting karena
merupakan media yang mampu menunjukkan  eksistensi diri. Di sinilah dapat di lihat mengenai suatu fenomena bahwa remaja cenderung mengadopsi hal - hal apa yang mereka anggap menarik dan banyak digemari oleh masyarakat baik diluar kelompoknya maupun masyarakatnya sendiri. Media massa dan industri adalah media yang paling dominan dalam mengkontruksi apa saja kebutuhan remaja, caranya dengan mengkampanyekan dan mempromosikan sebuah gambaran atau trend yang sedang populer.

Usia remaja merupakan saat dimana daya cipta tengah berkembang.
Daya cipta yang banyak terlihat dalam bentuk kegiatan yang digemari kebanyakan tidak semuanya ditentukan oleh potensi dan bakat yang ada dalam diri remaja sendiri, namun seringkali daya cipta tersebut merupakan bentuk dari peniruan terhadap sesuatu atau hal - hal yang serba baru yang sedang berlangsung disekitarnya. Salah satu bentuk adopsi yang sering dilakukan oleh para remaja adalah dalam bentuk

Lifestyle yang tercermin dalam bentuk suatu komunitas dengan kegemaran yang sama pada suatu hal salah satunya adalah kegemaran akan musik.
Komunitas sendiri menurut Victor Turner dalam buku masyarakat bebas struktur, komunitas dilihat sebagai cara relasi sosial antar pribadi yang konkret, yang langsung(Winangun, 1990:46). Bentuk komunitas yang ada dalam antara lain adalah komunitas musik Reggae yang bisa juga disebut sebagai subkultur Reggae.

Subkultur Reggae terbentuk sebagai kelompok atau komunitas yang memiliki kesamaan suatu hal, yaitu dalam hal musik dan juga lifestyle yang tercermin melalui atribut dan attitude yang melekat pada diri mereka.
Subkultur Reggae dapat dengan mudah kita tandai, kebanyakan dari mereka seringkali
menggunakan atribut pakaian dan gaya rambut yang mencolok.
Gaya penampilan dalam Subkultur Reggae kebanyakan meniru gaya dari musisi legendaris Jamaika yaitu Robert Nesta Marley yang biasa dikenal dengan nama Bob Marley yang merupakan seorang Rastafarian sejati.

Hampir dari seluruh apa yang terkait dengan nama Bob Marley selalu menjadi acuan bagi komunitas musik Reggae, mulai dari gaya rambut dreadlock,
kecintaan terhadap musik Reggae (aliran musik yang berasal dari Jamaika), hingga
kebiasaan menghisap ganja walaupun tidak semua Rastafarian
menghisap ganja, sehingga seringkali subkultur Reggae diidentikan sebagai Rasta atau Rastafarian. 

Namun kebanyakan dari mereka hanya menirukan apa yang tersurat saja tanpa memperdulikan sesuatu yang tersirat dibalik gaya dan kebiasaan yang dititukan. Hal ini tak lepas dari pengaruh media sebagai suatu industri budaya yang kebanykan hanya menyoroti musisi ini dari sisi penampi lan luarnya saja. Sehingga seringkali para remaja yang merupakan pendukung terbesar dari komunitas ini hanya sekedar menirukan apa yang terlihat tanpa memperhatikan arti dari kesemuanya itu. Maka sebagai konsekuensinya muncul stereotipe bahwa Subkultur Reggae adalah komunitas yang hanya melakukan tindakan negatif seperti menghisap ganja dan memandang mereka yang ada didalamnya sebagai gembel karena terlihat dari rambut gimbalnya. Setelah menyimak dinamika Subkultur Reggae, khususnya yang terkait dengan gaya hidup Rastafarian dari komunitas ini, maka permasalahan penelitian dapat di jabarkan ke dalam pertanyaan tentang bagaimana keseluruhan dari subkultur reggae terkait dengan sejarah, gaya hidup dan juga kesehariannya dalam masyarakat



Apa itu reggae?
Reggae
like its earlier counterpart calypso, quickly became a medium of social
commentary as part of the African cultural tradition transported to the
Caribbean by the slaves. It still serves as a social safety valve through which
oppressed peoples express their discontent. Like the music of Africa,
Reggae
is for dancing, but the lyrics elicit a variety of responsive emotions-- crying, rage,
and rejoicing. As Bob Marley sings in "Them Belly Full (But We Hungry)"( Barrett, 1997:1).

[Reggae,seperti halnya music-musik yang sebelumnya, adalah semacam
komentar sosial tentang budaya Afrika yang dibawa ke Karibia melalui budak-budak Afrika. Reggae masih dipakai sebagai cara mereka mengekspresikan posisi sosialnya atau kekurangpuasan terhadap situasinya. Seperti musik dari Afrika, Reggae memang music untuk berjoget, akan tetapi liriknya mengundang
respon emosional, seperti tangisan, kemarahan, dan suka cita. Seperti yang Bob
Marley nyanyikan dalam lagu berjudul “Them Belly Full (But We Hungry)]. 


Reggae mulai dikenal di Indonesia pada era 80 an dimana pada saat itu masuk
seiring dengan sedang digalakannya industri pariwisata saat itu. Pada saat itu Reggae
masuk melalui wisatawan asing yang datang dan mengenalkan musik Reggae di daerah pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta yang pada akhirnya juga merambah daerah lain seperti Jakarta dan Surabaya, dan kemudian juga di ikuti dengan munculnya lagu-lagu dan penyanyi yang membawakan musik beraliran Reggae yang mengidentikan suasana pantainya, seperti Melky Goeslaw yang menciptakan lagu berjudul ‘Dansa Reggae’ dan juga Tony Q dan Rastafara yang mulai membawakan musik Reggae. Perkembangan Reggae di Indoensia sempat redup saat itu dan muncul kembali pada era 2000an di mulai dengan munculnya musik ska yang kemudian diikuti oleh musik Reggae.

Ras Muhamad dalam wawancara nya di salah satu stasiun televisi nasional menyebutkan bahwa dalam musik Reggae instrumen yang penting adalah bas yang “patah-patah” dan menunjukan
rithme lagu itu sendiri,ketukan drum yang disebut dengan istilah “one drop”dan juga
kocokan gitarnya yang dimulai dari bawah keatas, sehingga berbunyi “nyet-nyet” atau “ceket-ceket” menurut istilah kawan-kawan di surabaya.
Komunitas Reggae merupakan komunitas para pecinta musik Reggae.
Di antara para pecinta musik Reggae ada yang tergabung dalam suatu
komunitas yang telah terbentuk dan ada pula yang cukup sekedar nongkrong
bareng di suatu lokasi tempat berkumpulnya salah satu band Reggae lokal ataupun di suatu distro yang menyediakan segala hal yang berbau dengan Reggae dan Rastafarian
dan juga lokasi gig-gig Reggae baik regular ataupun insidentil.
Di beberapa kota seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Malang dapat di jumpai lokasi dan komunitas Reggae.

Tidak diketahui secara pasti dari jumlah komunitas Reggae di setiap kota, karena memang tidak pernah ada pendataan, kalaupun ada hanya sebatas anggota band dan fans base yang juga tidak terdokumentasi dalam hal jumlah, ada juga struktur komunitas Reggae yang sudah membentuk suatu organisasi.
Komunitas reggae tidak tampil layaknya komunitas musik lain, namun loyalitas komunitas ini terlihat dalam sebuah event musik reggae yang selalu penuh dengan penggemarnya, bahkan terkadang komunitas musik lainnya pun ikut datang untuk menikmati musik yang menurut sebagian besar penggemarnya merupakan musik damai.

Hal itu terbukti pada setiap event reggae
tidak pernah terjadi tawuran antar penggemarnya. Komunitas reggae terlihat besar dalam
Scene-scene underground atau Scene-scene indie(Independent).
Hal itu dikarenakan sangat musik reggae selalu menggunakan label recording skala lokal dan jarang menggunakan label-label besar berskala nasional dalam proses rekaman lagunya sehingga penyebaran lagu-lagu dari musisi reggae lokal menggunakan media lisan atau dari orang satu ke orang lainnya. Komunitas Reggae di Surabaya pada awalnya tidak memiliki suatu organisasi
khusus. Pada tahun 2006-2007 para musisi Reggae lokal seringkali mengadakan
event musik Reggae yang berlokasi di Food Tunnel AJBS yang terletak di Jl. Ratna yang pada
saat itu merupakan salah satu lokasi yang sering di gunakan sebagai event musik suatu komunitas namun pada saat ini lokasi tersebut telah menjadi sebuah restoran, event Reggae terakhir yang berlokasi d sana adalah “Jamaican Night” yang juga merupakan awal mula perkenalan peneliti dengan salah satu informan meskipun sebelumnya pernah dikenalkan oleh kawan dari informan namun pada saat itu peneliti belum sempat berbincang-bincang dengan informan. Informan tersebut adalah Dimas dimana peneliti
berkenalan dengan cara bertukar minuman beralkohol yang dibawa peneliti dengan lintingan ganja yang dibawa oleh Dimas. Lokasi lainnya berada di Pusat Studi Kebudayaan dan Bahasa Prancis (CCCL) yang sering bekerjasama dengan musisi-musisi lokal termasuk juga musisi Reggae
Surabaya seperti Rasta Revolution, Nyiur Melambai dan juga Heavy Monster yang mengusung musik ska-Reggae.

Beberapa event Reggae yang mengundang musisi Reggae ibukota seperti Steven And Coconut Trees kebanyakan berlokasi di Balai Pemuda Surabaya. Pada tahun 2011 mulai terbentuk Surabaya Reggae Indonesia (SRI) yang bermarkas di distro Redline Sidoarjo, pada saat ini SRI mempunyai event Reggae
yang mengundang musisi Reggae secara regular di Taman Remaja pada hari Kamis minggu ke tiga.
Yogyakarta adalah kota dengan intensitas event Reggae yang cukup sering di kampus dan juga cafe. Yogyakarta juga banyak terdapat distro-distro yang menyediakan segala aksessoris yang berbau Reggae.
Cafe yang sampai saat ini masih melaksanakan event Reggae regular adalah cafe bintang yang berlokasi di Jl. Sosrowijayan, event Reggae di cafe ini dilaksanakan pada hari Rabu. Cafe lainnya adalah radikal cafe yang berlokasi di Jl. Gejayan, cafe ini menyuguhkan musik Reggae secara regular pada hari Jum’at. Selain cafe ada juga distro dan juga markas musisi Reggae lokal atau seringkali disebut dengan istilah 
basecamp, antara lain distro Djatimaika yang terletak di sudut Jl. Malioboro, studio tempat berkumpulnya komunitas Reggae dan juga merupakan basecamp Marapu Band Reggae lokal Yogyakarta adalah Gong Studio yang terletak di daerah Nologaten, Yogyakarta, ada juga basecamp dari Burgertime Band yang berlokasi dekat dengan kampus ISI yaitu di daerah Bantul.

Kondisi kota Malang hampir sama dengan Yogyakarta dengan derasnya arus
pendatang baik wisatawan maupun pelajar. Sehingga memungkinkan tumbuhnya berbagai komunitas. Lokasi-lokasi yang sering menjadi tongkrongan komunitas Reggae Malang adalah cafe Jagrak Tengah yang berlokasi di perempatan Klojen, cafe tersebut mengadakan event regular khusus musik Reggae
pada hari Sabtu, namun pada tahun ini event tersebut sudah digantikan dengan event live musik, studio dan terkadang juga di emperan jalan seperti di sekitaran Stasiun Blimbing. Hampir sama dengan Yogyakarta, kampus-kampus di Malang juga sering mengadakan gig-gig Reggae walaupun tidak secara regular.

Gig Reggae terbesar yang dilaksanakan di Malang adalah Reggae Festival pada tahun 2010 yang dilaksanakan di Taman Krida Budaya pada tanggal 9 0ktober 2010 mulai pukul 7 malam hingga pukul 3 pagi, dan diisi oleh musisi Reggae lokal dan juga musisi dari kota-kota lain termasuk Jakarta seperti Steven And Coconut Trees dan juga Ras Muhamad.

Rastafarian dan Reggae
Rastafarian
sebenarnya merupakan sebuah ajaran agama Kristen yang berlaku di kalangan petani dan buruh yang ada di Jamaika terutama pada masyarakat kulit hitam (Negro).
Nama Rastafarian sendiri diambil dari nama kaisar Ethiopia sebelum ia di beri gelar kekaisaran yaitu Ras Tafari Makkonen yang juga dipercaya oleh para Rastafarian
sebagai penjelmaan Yesus yang turun untuk kedua kalinya ke bumi untuk memimpin
bangsa-bangsa kulit hitam untuk kembali ke tanah nenek moyangnya Ethiopia yang juga di yakini sebagai surga yang ada dibumi. Bukan hanya itu saja Rastafarian juga dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap bentuk perbudakan yang terjadi oleh kaum kulit putih (Eropa) terhadap masyarakat kulit hitam sebagai implementasi dari politik apartheid. Pada masa awal kemunculan ajaran
Rastafarian(1930) masyarakat kulit hitam selalu berada pada tatanan sosial yang terendah dan masyarakat kulit putih sebagai penghuni kelas teratas dalam masyarakat.
Akibatnya banyak terjadi penindasan dan perbudakan terhadap kaum kulit hitam, dan akhirnya munculah Rastafarian sebagai gerakan yang menolak sistem yang 
diberlakukan oleh masyarakat kulit putih.

Di negara kita (Indonesia) unsur-unsur Rastafarian masuk melalui media musik, yaitu musik Reggae
yang bagi para Rastafarian dianggap sebagai musik spriritual.
Salah satu musisinya adalah Bob Marley, yang merupakan aktor penting dalam hal persebaran Rastafarian bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Hal itu terkait dengan pengaruh adanya media komunikasi seperti televisi yang juga menunjang proses persebarannya. Sehingga secara tidak langsung media komunikasi membentuk sebuah budaya yang kemudian menjadi sebuah komoditas masyarakat terutama pada kalangan remaja yang cenderung konsumtif dan memandang suatu bentuk eksistensi diri dari kemasan luar atau penampilan.Di Indonesia, Reggae hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,

Reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad, pemusik Reggae yang sudah 12 tahun menekuni dunia Reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik hingar-bingar dan kegembiraan yang dibawa Reggae, ada stigma bahwa Reggae selau identik dengan konsumsi ganja yang melekat pada para penggemar musik tersebut.
Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri. "Di sini, penggemar musik Reggae, atau sering salah kaprah disebut Rastafarian, didentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini. 

Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib,
dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya 
menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran rastafari," seperti yang dikatakan Ras Muhamad.
Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar Reggae adalah penganut rasta, dan
sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu Reggae. Reggae diidentikkan dengan Rastafarian karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah seorang penganut Rasta. (Kompas , 9 Juli 2006 ).

Hal itu bertolak belakang dengan apa yang sering di katakan kawan-kawan yang
baru menikmati Reggae, terkadang mereka menyebut musik Reggae
adalah rasta, bahkan rambut gimbal pun di sebur sebagai rasta.
Reggae sebagai subkultur dalam masyarakat

Sebagaimana di ketahui bahwa kebudayaan dapat dikatakan suatu kebudayaan
ketika memiliki tiga wujud, yang lebih dikenal dengan istilah 3 wujud kebudayaan.

Tiga wujud kebudayaan itu adalah ide, perilaku, dan artefak atau budaya fisik. Maka, serupa dengan J.J Honigmann yang dalam buku pelajaran antropologinya yang berjudul the wrold of man (1959: hal 11-12) membedakan adanya tiga “gejala kebudayaan”, 
yaitu:
  • ideas, 
  • activities, dan
  • artifacts (koentjaraningrat, 1990:186).

Kelompok subkultur, disebut Haviland (1985) sebagai variasi subbudaya dalam suatu masyarakat yang berfungsi menurut standar perilaku yang khas. Gaya, sikap dan cara bertindak praktis lain juga menjadi tanda penting bagi anggota-anggota subkultur. hal itu biasanya bertujuan untuk menetang kehidupan sehari-hari dengan maksud ingin berbeda dari yang lain dan membangun serta menunjukan eksistensi keberadaan subkultur mereka. Makna resistensi dalam subkultur mempunyai arah yang berbeda dengan gerakan politik. Berbagai bentuk pembangkangan terhadap kemapanan dilakukan terutama atas standar-standar penampilandan perilaku yang esensinya terletak pada ide budaya. Sedangkan bentuk seni yang sering dipakai untuk menuangkan ide dan pikiran itu adalah musik (Andrianto, dikutip dari http://www.digilib.ui.ac.id , diakses tanggal ei 2012).

Reggae berawal dari sebuah aliran musik yang memiliki massa sendiri, dalam perkembangannnya Reggae akhirnya berkembang sebagai suatu kebudayaan dalam kebudayaan atau disebut dengan istilah subkultur. Hal itu terjadi sebabagi akibat dari  persinggungan Reggae dengan rastafarian yang merupakan bentuk kebudayaan besar yang beasal dari kaum petani dan buruh d jamaika, dari kultur itulah Reggae memiliki bentuk kebudayaan yang disebut sebagai tiga wujud budaya. Ide pada subkultur Reggae ide awal mereka hampir sama dengan subkultur-subklutur lain yang lebih besar atau lebih dikenal sebelumnya seperti Punk dan Juga hippies, ide awal mereka adalah ide perlawanan, dimana pada Reggae sendiri adalah perlawaana terhadap politik apartheid atau penggolongan kelas sosial berdasarkan warna kulit. Perilaku, wujud perilaku yang mencolok dari Reggae sendiri adalah dalam penggunaan gan ja dan juga penggunaan

simbol-simbol seperti dreadlock atau gimbal dan juga vegetarian. Wujud kebudayaan yang paling mudah dilihat atau bentuk fisik dari Reggae sendiri adalah rambut gimbal yang di negara asalnya jamaika merupakan bentuk perlawaanan dan musik Reggae itu sendiri sebagai aliran musik, dan juga warna merah kuning hijaunya.
Dalam gaya hidup subkultur Reggae sendiri terlihat beberapa simbol - simbol yang
dominan dalam kehidupan kesehariannya untuk berkomunikasi dengan menggunakan
tanda dan symbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik,
postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus. Simbol-simbol dalam gaya hidup tersebut bermula dari kedekatan akar musik Reggae gerakan rastafarian yang dekat dengan kehidupan afrika. “Afrika merupakan gagasan sentral kaum rastafarian hidup dekat dan menjadi bagian dari alam dianggap sebagai sifat Afrika. Pendekatan afrika terhadap‘hidup dekat alam’ ini terlihat dalam simbolisasi
dreadlock(rambut gimbal), ganja, makanan, upacara keagamaan, dan segala aspek kehidupan. Dalam masyarakat ketika berbicara tentang Reggae maka akan langsung mengarah kepada rasta, hal itu pula yang
dirasakan peneliti ketika masih duduk dibangku sekolah. Peneliti menganggap bahwa Reggae sebagai popular culture adalah rasta , sedangkan ketika berbicara rasta maka yang akan terbesit adalah warna merah kuning hijau, rambut gimbal, anak pantai dan kebiasaan mengkon sumsi ganja dalam kesehariannya. Anggapan-anggapan dan stigma tentang Reggae seringkali muncul ketika peneliti berbicara tentang
Reggae terhadap keluarga peneliti dan juga kawan-kawan penggemar
Reggae yang seringkali menyebut merah kuning hijau, ganja dan juga dreadlock adalah rasta.Simbol-simbol Rastafarian dalam Reggae Manusia juga berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan symbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik, postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus, agama, kekerabatan, nasionalitas, tata ruang, pemilikan barang dan banyak lagi lainnya”(Saefuiddin, 2 5:289-280).

Dalam gaya hidup subkultur Reggae
sendiri terlihat beberapa simbol-simbol yang dominan dalam kehidupan kesehariannya. Dreadlock atau gimbal dalam istilah indonesia sebenar nya merupakan bentuk rambut asli kulit hitam jika di biarkan panjang, namun pada rastafarian hal itu dikaitkan dengan kedekatan dengan alam terutama afrika yang dianggap sebagai tanah perjanjian.
Rambut dreadlock pun lantas menjadi titik perhatian dalam fenomena Reggae.
Bahkan sekarang dreadlock sering di identikan dengan musik
Reggae sehingga orang sering salah kaprah dengan mengganggap bahwa para musisi Reggae-lah yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (lock) itu (bob marley:spirit of freedom,).

Rambut gimbal mulai populer ketika musisi asala jamaika bob marley mulai dikenal dunia, sehingga musik Reggae selalu di identikan dengan rambut gimbal. Hal itu menyebabkan banyak penggemar musik Reggae beramai-ramai menggimbal rambut mereka, ada yang menggunakan rambut asli dengan memanjangkan terlebih dahulu ada juga yang menggunakan rambut tambahan.
Dalam gerakan rastafarian penggunaan ganja memiliki makna tersendiri, mereka menganggap bahwa ganja di ciptakan oleh tuhan bukan tanpa tujuan, melainkan untuk mendewasakan manusia. Ganja sendiri pertama kali di temukan di cina pada tahun 2737 sm.
Mereka menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan pakaian dan obat-obatan dan terapi penyembuhan seperti rematik, sakit perut, beri-beri hingga malaria, Ganja juga di gunakan untuk upacara ke agamaan. Tanaman ganja memiliki sejarah dalam penggunaan ritualnya sebagai obat untuk mendorong trance dan tanaman ini di terlihat dalam beberapa kultus farmakologis di seluruh dunia.(Baskara,2008:86).
Penggunakan ganja dalam ajaran rastafarian adalah sebagai sarana meditasi, bukan
sebagai narkotika atau demi kesenangan semata dan hal ini tidak menjadi kewajiban
dalam gerakan rastafarian, anggapan inilah yang jarang diketahui oleh para penggemar
musik Reggae yang sebgaian merupakan pengguna ganja, beberapa dari mereka hanya tahu bahwa
Reggae adalah rasta dan rasta harus berganja.



Ganja memiliki beberapa nama dalam berbagai negara namun nama lain ganja yang
cukup popular adalah mariyuana dimana nama ini berasal dari bahasa mexiko dan juga spanyol, namun juga popular di daerah amerika.
“The term "marijuana" is a exican-Spanish name and has become popular in
the United States. In Jamaica, the term "ganja" is the most popular and represents
a finer quality of the weed.”(Barret, 1997:8
)

“Nama marijuana berasal dari mexico dan spanyol dan menjadi popular di
amerika. Di jamaika, nama ganja lebih popular dan merupakan sebutan untuk
bibit dengan kualitas yang lebih baik.”(Barret, 1997:83)

Pada suatu gig Reggae pasti akan sering terlihat warna merah kuning(emas) dan
juga hijau sebagai hiasan atau dalam poster-poster musisi Reggae. Para penggemar
Reggae kebanyakan menyebutnya sebagai warna rasta, sebagian dari mereka hanya tahu
merah, kuning, dan hijau. Kebanyakan dari penggemar musik Reggae tidak tahu bahwa
warna kuning adalah pengganti warna emas.

“...Gemerlap kalau didalam disco,tetapi dancehall(salah satu jenis music Reggae)
tak seperti itu penuh hiasan merah, kuning, hijau...”(Ras muhamad-Run dat)
Penggalan lirik dari lagu ras muhamad juga menunjukan bahwa warna merah,
kuning, hijau dekat dengan Reggae. Warna merah, kuning, hijau sendiri sebenarnya
merupakan warna dari bendera ethiopia yang merupakan negara asal Ras tafari makonen
yang merupakan kaisar ethiopia yang juga di anggap sebagai mesias(Juru selamat) yang
turun kedua kalinya sebagai manusia.
“The red signifies the blood of martyrs of Jamaican history...The black represents the color of the Africans whose descendants form 98 percent of all 
Jamaicans. The green is the green of Jamaican vegetation and of the hope of 
victory over oppression.”(Barret, 1997:9 )

“Warna merah menandakan darah dari pejuang dalam sejarah jamaika...warna
hitam melambangkan warna kulit orang afrika yang menghuni jamaika dimana
kurang lebih 98 persen warga jamaika adalah keturunan afrika. Warna hijau adalah hijaunya atau suburnya vegetasi jamaika dan juga lambang dari harapan lepas dari penindasan”
Warna emas dalam bendera jamaika dan juga ethiopia yang digambarkan dengan
warna kuning merupaka lambang dari sinar matahari yang menyinari rakyat seperti
Jah(jehovah) yang selalu memberikan sinar bagi rakyat jamaika dan ethiopia.
Warna-warna merah, kuning(emas), dan juga hijau tidak hanya menghiasi dindingdinding dari venue suatu gig. 

Warna-warna tersebut seringkali menajdi pakaian wajib
dari pengunjung gig Reggae untuk menunjukan eksistensi mereka sebagai penggemar
Reggae sejati dan ada juga yang menyebut diri mereka rasta. Banyak makna dari
kesemua warna yang dekat dengan subkultur Reggae dan gerekan rastafari ini, namun
secara garis besar makna-makna dari warna tersebut masih dalam satu garis lurus. 
Warna merah menandakan darah dari pejuang dalam sejarah jamaika...warna hitam 
melambangkan warna kulit orang afrika yang menghuni jamaika dimana kurang lebih 98
persen warga jamaika adalah keturunan afrika. Warna hijau adalah hijaunya atau suburnya vegetasi jamaika dan juga lambang dari harapan lepas dari penindasan. Selain
pakain bergambar bob marley dan ganja,warna-warna itu muncul mulai dari kaos,
aksesoris, hingga kerpus. Sehingga banyak para penggemar Reggae yang juga
memanfaatkan warna ini untuk bertahan hidup dengan menjual hal-hal yang berbau
merah, kuning, hijau, karena sperti di jelaskan diatas bahwa penggemar Reggae yang
berambut dreadlock seringkali bekerja di luar sektor formal seperti berdagang, salah
satunya adalah berdagang hal-hal dengan perpaduan warna tersebut dan juga hal yang
berbau bob marley dan juga ganja.

Penutup 

Masyarakat merupakan suatu bentuk budaya mainstream atau kebudayaan dominan
yang didalam nya juga terdapat sub-subbudaya selain budaya dominan tersebut. Maka
dalam setiap keseharian masyarakat selalu memiliki gaya hidup yang berbeda-beda
dalam setiap kelompok atau komunitas dan juga subkultur. keberbedaan atas gaya hidup
bukan selalu bertujuan sebagai bentuk gerakan penentangan atas suatu kondisi sosial,
melainkan untuk menunjukan eksistensi dan identitas kelompok atau subkultur dalam
masyarakat yang merupakan oposisi biner dari subkultur terkait dengan konsep budaya
dominan dan subbudaya. Bentuk identitas subkultur dalam gaya hidup tercermin dalam
perilaku, gaya, dan juga seni, salah satunya adalah musik. Remaja merupakan sebagian
besar pengikut suatu komunitas ataupun subkultur terutama subkultur yang berhkaitan
dengan musik dan juga gaya. Subkultur yang di ikuti oleh remaja adalah subkultur
Reggae. 

Dalam kesehariannya subkultur Reggae memiliki gaya hidup yang cenderung
menyimpang dari masyarakat kebanyakan. Menyimpangnya gaya hidup subkultur
Reggae bukan tanpa maksud, yaitu untuk menunjukan eksistensi dari subkultur mereka.
Gaya hidup musisi dan penggemar Reggae dalam subkultur Reggae tidak begitu saja
dijalani oleh mereka. Pada awalnya Reggae adalah sebuah jenis musik yang berasal dari

daerah karibia terutama jamaika. Musik Reggae bermula dari musik mento yang
kemudian berkembang menjadi ska dan terus berkembang hingga saat ini menjadi
Reggae dan juga sub-sub genre dari Reggae. Musik Reggae pada awalnya hanya musikmusik kampung yang hanya diputar dan dimainkan di daerah-daerah kingston jamaika.
Kemunculan Bob Marley yang merupakan agen dalam mempopulerkan Reggae
keseluruh dunia walaupun sebelum Bob Marley banyak musisi Reggae yang juga sudah
mulai rekaman. Kepopuleran Bob Marley sebagai musisi Reggae juga turut
mempopulernya Rastafarian yang juga di jalani oleh ikon Reggae itu sendiri. Rastafarian
dipopulerkan oleh Bob Marley melalui lagu-lagunya yang kebanyakan berisi tentang
gerakan Rastafarian dan pujian-pujian untuk Jah atau mesias bagi orang kulit hitam
Jamaika. Subkultur Reggae berkembang pesat pada kota dimana kota tersebut merupakan
kota tujuan wisata terutama tujuan wisata bagi wisatawan asing, mengingat bahwa
wisatawan asing juga merupakan agen yang membawa musik Reggae dan juga gaya
hidupnya walaupun peran tersebut tidak sebesar peran dari Bob Marley. Besarnya
subkultur ini dapat dilihat dengan semakin besar pula komunitas Reggae yang sebenarnya
itulah subkultur Reggae itu sendiri. Kebanyakan dari anggota yang baru mengenal
subkultur Reggae, menyebut mereka adalah rasta(Rastafarian) karena mereka sudah
menggimbal rambutnya, mencintai Reggae dan menghisap ganja layaknya keseharian
dari bob marley sebagai panutan mereka yang merupakan Rastafarian dan juga musisi
Reggae. 

Hal itu berbeda pada mereka yang mapan pada subkultur Reggae karena mereka
akan berasaha untuk mengenal lebih dalam lagi tentang subkultur Reggae, dan tidak lagi
melihat Reggae dari permukaannya saja. Cara pandang Reggae dari tampilan dan
permukaan saja itulah yang memunculkan stigma bahwa penggemar Reggae selau identik
dengan rasta dan juga dicap sebagai pengganja.






Saturday, 24 November 2012

Toni Q Rastafara

Nama lahir : Toni Waluyo Sukmoasih
Nama lain : Tony Q
Lahir pada : 27 April 1961 (umur 50) Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Jenis Musik : Reggae
Pekerjaan : Musisi, Penyanyi
Instrumen : Gitar
Tahun aktif : 1989 - sekarang
Hubungan Dipengaruhi : Bob Marley
Situs resmi : www.tonyqrastafara.net

Tony Waluyo Sukmoasih (populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara; lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1961; umur 50 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia beraliran reggae yang telah aktif di ragam tersebut sejak tahun 1989. Dia bersama grup musiknya Rastafara memopulerkan istilah "rambut gimbal" (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama pada tahun 1996. Tony Q telah menjadi ikon musik reggae Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor reggae di Indonesia, karena dia tak hanya berkecimpung di ragam tersebut sejak lama, namun juga mengembangkan karakter musik reggaenya sendiri, dimana dia memasukkan banyak unsur tradisional Indonesia ke musiknya, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia dalam musiknya.
Tony Q adalah seorang lulusan STM Perkapalan di Semarang. Sebelum terjun ke dunia musik, pada tahun 1980 Tony Q pernah bekerja selama enam bulan di bagian quality control (pengendalian mutu) di sebuah pabrik pengalengan milik perusahaan Singapura di Cakung, Jakarta Timur. Namun kemudian dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih untuk menjadi pengamen di jalanan dan seorang musisi, menghadapi tentangan keras keluarganya. Dia sempat menjadi pengamen selama lima sampai enam tahun di daerah Blok M, Jakarta.

Menurut wawancara dengan Tony Q di Radio Nederland Wereldomroep, sebelum terjun di musik reggae, dia pernah memainkan blues, rock, bahkan musik country. Tahun 1989 dia akhirnya memilih menekuni musik reggae yang menurutnya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Tony Q mengaku sangat mengidolakan Bob Marley, almarhum musisi reggae kenamaan asal Jamaika.

Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997).
Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan Tony Q, dengan lirik lagu yang banyak bertema sosial, kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang populer adalah "Rambut Gimbal", sebuah istilah untuk gaya rambut dreadlock yang kerap digunakan oleh pengikut Gerakan Rastafari, yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia yang menjadi populer karena lagu tersebut.
Rastafara saat itu dinilai berbeda dengan grup musik reggae lainnya karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional khas Indonesia ke dalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang Sunda atau Gamelan Jawa ikut menambah warna musik dalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.
Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Tony Q kemudian melanjutkan kariernya dengan membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaitu Tony Q Rastafara.

Karier musik solo
Tahun 2000 Tony Q yang sekarang dikenal dengan nama Tony Q Rastafara berhasil merilis album solonya yang pertama, "Damai Dengan Cinta" tanpa dinaungi perusahaan rekaman. Pada album solo pertamanya ini Tony Q mulai mengalami puncak kariernya dalam musik reggae. Setelah mendengar album pertamanya tersebut, seorang profesor di bidang musik dari Kanada memberikan Tony Q referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika Serikat. Pihak penyelenggara festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di demo tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara yang sama pada tahun 2002. Namun keberangkatan Tony Q beserta rombongannya ke festival tersebut terpaksa batal karena mereka tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait terjadinya "Peristiwa 9/11" di Amerika Serikat yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q.
Tahun 2003 Tony Q Rastafara merilis album solonya yang kedua berjudul "Kronologi". Lagu dalam album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album Tony Q sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Tahun 2005 Tony Q merilis album "Salam Damai". Dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur instrumen tradisional Indonesia. Dalam album tersebut terdapat lagu dengan lirik bahasa Sunda ("Paris Van Java") dan Jawa ("Ngajogjakarta") yang semakin menambah kental unsur tradisional Indonesia dalam musik reggae.
Pada tahun 2005 lagu "Pat Gulipat" dari album solo pertamanya "Damai Dengan Cinta", masuk ke dalam album kompilasi musik "Reggae Playground" yang dirilis bulan Februari 2006 di bawah perusahaan rekaman Putumayo World Music, sebuah label rekaman yang berbasis di New York, AS.
Tahun 2009 Tony Q merilis album "Presiden" dalam rangka maraknya Pemilu 2009 di Indonesia. Menurut Tony Q, album ini dirilis untuk memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu bagaimana menyikapi kondisi politik saat itu. Musik dalam album ini kembali menghadirkan unsur tradisional Indonesia seperti kendang Sunda, gamelan, sitar Jawa, tamburin, bahkan trompet reog.

Prestasi
Headliners “Bob Marley Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2002)
Invitation “Legend of Rasta Reggae Festival”. Houston TX, Amerika Serikat (2003-2005)
Putumayo World Music Album Compilation, “Reggae Playground” – single “Pat Gulipat” (2006)





Diskografi

Album
Rambut Gimbal (1996) - Hemagita Record
Gue Falling in Love (1997) - Blackboard Record
Damai Dengan Cinta (2000) - AK Production
Kronologi (2003) - Indonesia Rasta Production


Salam Damai (2005) - IM Production
  1. Om Fangke
  2. Salam Damai
  3. Ngayogjokarto
  4. Paris Van Java
  5. Lady White
  6. Gadis Andalas
  7. Cahayamu
  8. Yang Terulang
  9. Don’t Worry… U Yeah
  10. Peace With Love


Anak Kampung (2007) - Tony Q Production / 267 Record

  1.  Woman
  2.  Reggae Dot Com
  3.  This Is My Way
  4.  Tertanam
  5.  Liburan
  6.  Ada Gula Ada Semut
  7.  Ketika
  8.  Ojo Lali
  9.  Mencium Bulan
  10.  Anak Kampung


Presiden (2009) - Tony Q Production



Presiden adalah album studio musik reggae ketujuh karya penyanyi reggae Indonesia Tony Q Rastafara, yang dirilis pada tahun 2009. Album Presiden ini sudah direkam oleh Tony mulai tahun 2004 namun baru dirilis tahun 2009 saat dilaksanakannya Pemilu 2009 di Indonesia saat itu. Saat pertama dirilis, album Presiden hanya dirilis dalam edisi terbatas dalam jumlah sekitar kurang lebih 2.000 keping CD dan tidak dalam bentuk kaset. Hit singel dalam album ini adalah lagu "Republik Sulap".

Album Presiden dirilis oleh Tony Q dalam rangka maraknya pemilu 2009 di Indonesia saat itu. Menurutnya, konsentrasi album ini adalah penyadaran untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu menyikapi kondisi politik serta hati-hati dalam memilih presiden Indonesia saat itu.


Album studio CD oleh Tony Q Rastafara


Dirilis: 2009
Direkam: 2004
Genre: Reggae
Durasi: 32:20
Label: Tony Q Production



TRACK :
"Republik Sulap" (3:14)
"Lop Song" (3:14)
"Bla Bla Bla" (2:49)
"Politik" (4:00)
"Krisis Kepercayaan" (3:05)
"Wake Up" (2:32)
"Manteman" (3:08)
"Matahariku" (2:48)
"Presiden" (7:27)

  1. Akustik Kurang Tambah (2010) - Tony Q Production
  2. Bumi Menunggu
  3. Kong Kali Kong
  4. Mendaki Gunung
  5. Senja Jingga
  6. Aku Bukan Nabi
  7. Semut Gajah
  8. Don’t Worry U…Yeah
  9. Minggu Malas
  10. Tarian Moyang
  11. Gue Bukan Superman
  12. Kangen

Single & Kompilasi
• “Aku Anak Kampung”, (2005) IRR Compilation Album
• “Pat Gulipat”, (Damai dengan Cinta, 2000) Putumayo World Music
• OST Ai Lop Yu Pul (2009), Maleo Entertainment

DMCA.com